Seorang teman sejati bukanlah yang banyak memujimu, tetapi yang memperlihatkan kepadamu aib mu. Yang perlu diingat, menasehati jangan dilakukan didepan orang banyak (agar kita tidak tergolong ke dalam orang yang menyebar aib orang lain).

Umar bin Khattab r.a.

Apakah kami pernah bertengkar? Pernah. Apakah sering? Sangaaaaaaaaat jarang. Lebih tepatnya: cuma ada 1 kali pertengkaran sangat hebat pada waktu kelas II dan setelah itu kami duduk berpisah selama lebih kurang 1 semester sebelum akhirnya duduk sebangku lagi. Kok bisa, masalahnya apa? Whooooo, itu butuh satu chapter lagi untuk diceritakan. Tapi bukan cerita yang menarik untuk dibaca, karena sudah terlalu sering dituliskan di novel-novel teenlit dan saya yakin, besar sekali pengaruh ketidakstabilan hormon disana.

Oya saya lupa bilang, kami sekelas dari kelas 1 sampai kelas 3: I.1, II.1, III.1. Segala puji bagi Allah kami tidak pernah “tersingkir” dari kelas unggul  (terutama saya, she’s very smart, no need to worry, trust me). Kami juga punya beberapa sahabat dekat, yang karena ‘perjalanan’ yang ditakdirkan Allah berbeda-beda, tidak memungkinkan untuk selalu bersama-sama lagi.

That’s another of our destiny, Allah keeps us stick together.

Begitu juga ketika akhirnya kami sama-sama lolos masuk salah satu SMA favorit di kota kami, SMA N 1 Padang. Awalnya kami terpisah kelas, saya X.3 dan Dina X.7 (mulai saat itu kelas di SMP tidak lagi I-III, tapi VI-IX, dan dilanjutkan ke SMA: X-XII). Lalu kami sama-sama tertarik mengikuti program international class, kami mengikuti seleksinya, alhamdulillaah lulus, tapi beda kelas (ada dua kelas internasional yang dibentuk saat itu). But we want to stick together. Jadilah kami mengusahakannya bersama-sama, dan alhamdulillaah lagi, kami bisa sekelas dan sebangku lagi, for another 3 years, yeyy!

Di masa-masa paling indah, kami melewatkannya bersama-sama. Di kelas, kami agak sepaket, Dina biasa jadi bendahara, saya jadi sekretaris. Kelas unik, berisik, tapi sumpah bikin sirik, haha, karena sangat sangat kompak dan saling mencintai *halaah. Kami sama-sama aktif di ekstrakulikuler Rohani Islam, sebuah keluarga baru yang tidak akan pernah kami tinggalkan. Benar-benar masa yang indah, dan seingat saya, kami juga tidak pernah berantem, hehe. Dina adalah murid yang sangat sangat sangat cerdas, juara 1 terus!!! How amazing.

Teenage love story? Well, we do have too, of course. Tapi segala puji bagi Allah yang menganugrahkan kepada kami keluarga yang bahkan sebelum kami memakai ‘rok biru’ sudah wanti-wanti bilang pacaran itu tidak baik. Lalu Rohis, guru-guru pembimbing, kakak-kakak alumni, adik-adik, dan saudari-saudari yang membantu kami mengenal agama kami lebih baik, mengenal diri ini lebih baik, mengenal Rabb yang kami sembah—sehingga akhirnya kami paham, atau setidaknya tau, mana yang disukai Allah, mana yang tidak disukai-Nya, atau bahkan dibencinya. Untuk hal pacaran, sampai sekarang kami sepakat bukan kategori yang pertama. Semoga Allah swt menjaga kami dalam keistiqamahan. Fyi, cerita labil kami sungguh berbeda, kalau Dina ujiannya hati yang berbunga-bunga, kalau saya ujiannya hati yang patah-patah. Hahaha. Youthful.

Hati ini menjadi lebih gelisah di akhir kelas 3, ketika kami mulai menetapkan pilihan masing-masing, kami mau kuliah kemana—atau lebih tepatnya, mau pergi kemana. Sejak dari SD sampai keadaan menjadi sedikit rumit saat itu, kami sepakat memilih satu pilihan: FK Unand, kami mau jadi dokter. Semua jadi membingungkan karena ketika SMA semakin terlihat bahwa Dina sangat mencintai matematika, dan saya sendiri hanya murid rata-rata di rangking sepuluh besar. Sampai akhinya, dengan kekuatan tekad, Dina tetap memilih FK Unand ketika penerimaan lewat jalur nilai rafor a.k.a PMDK dan saya memilih Jurusan Sistem Informasi IT Telkom—terbang ke Bandung. Karena dukungan keluarga besar, saya memutuskan untuk meninggalkan cita-cita di FK Unand. Alhamdulillaah, kami diterima, kami bersyukur, namun pada saat yang sama sangat sangat bersedih karena harus terpisah.

To be continued…