Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.

Q.S. Al Anfal: 63

Persahabatan—tema menarik bagi setiap cerita dalam film, lagu, puisi, bahkan juga tulisan-tulisan lugu murid berseragam merah putih. Hubungan unik yang seakan menembus pertahanan benteng-benteng protein di dinding sel-sel darah merah, ikut mengalir—menghantarkan energi bagi setiap unsur kehidupan di dalam tubuh.

Bagi saya supplier utama energi itu bernama Dina Fitri Fauziah🙂

Banyak yang bertanya sudah berapa lama kami berkawan dekat. Jawabannya mantap, kami bersahabat sudah hampir 10 tahun. Apakah kami tidak punya sahabat lain, jawabannya juga mudah, tentu saja punya, banyak, dan mereka semua luar biasa. Lalu mungkin dilanjutkan pertanyaan lainnya, kenapa selalu berdua-dua, jawabannya sederhana,karena Allah swt yang mengatur agar selalu begitu. Tidak percaya? Baca saja tulisan ini sampai akhir. Hehe.

Saya masih ingat ketika itu hari pendaftaran ulang bagi murid baru di SMP N 8 Padang, saya mengikuti daftar nama murid Kelas I.1 (40 siswa/i dengan nilai UAN tertinggi ditempatkan disana). Ada cukup banyak, seingat saya 9 orang, dari sekolah saya sebelumnya (dari kelas sebelumnya lebih tepatnya), SD Kartika I-11 Padang. Syukurlah, walaupun ada sedikit masalah, hampir semuanya laki-laki, kecuali satu nama: Dina Fitri Fauziah.

Hm, kami tidak terlalu dekat, sama sekali tidak dekat malah, jarang berbicara. Mungkin karena kami hanya sekelas 1 tahun, di Kelas VI A, kelas yang dibentuk untuk siswa/i yang rangking 10 besar dari 4 kelas: A, B, C, dan D yang tidak pernah diacak dari kelas 1. Sedikit hal yang saya tau tentang Dina—Dina adalah sepupu teman sekelas saya sebelumnya, kami pernah dikenalkan waktu kelas IV karena satu alasan: tas kami sama. Oya, Dina anak drumband, pemain lira yang sangat terampil. Itu saja. Dan hey, akhirnya ketika akan pulang setelah selesai mendaftar (saya memang datang agak lebih awal), saya melihat Dina, mengenakan bando dengan sweater kuning dan celana panjang berwarna maroon, waktu itu memang agak hujan. Dia pun melihat saya dan melambai ramah, ntah apa yang saya pikirkan, langsung saja berteriak sambil berlari-lari kecil karena gerimis, “Besok kita duduk sebangku ya!”, untunglah dijawab “Iya”  dengan sangat ramah lagi. Coba kalau Dina bilang “Yah aku udah janji duduk sama si ‘itu’”, terus saya mau duduk sama siapa?? Fyi, dulu saya super duper introvert, sangat introvert dalam hal berkawan (tapi anehnya suka sekali tampil di depan kelas, ckck).

See? That’s our first destiny.

More? Well, ternyata kami sama-sama pecinta Westlife dan Harry Potter. Kami suka bernyanyi di depan kelas (cukup tobat pas SMA). Kami punya style yang sama: rok di bawah lutut dan ada bros kecil di pasang di bawah kancing baju paling atas baju seragam yang kebesaran. Di akhir kelas II, dengan selang 3 hari, kami akhirnya “berjilbab” , Alhamdulillaah.

(to be continued…)