Tidak beriman salah seorang kalian sampai dia mencintai saudaranyaseperti dia mencintai dirinya sendiri.

H.R. Bukhari dan Muslim

Namun sekali lagi, Allah menyatukan kami. Orangtua saya sepertinya masih menyimpan keinginan untuk salah satu anaknya menjadi seorang dokter. Papa saya sepertinya masih melihat ketidakbulatan tekad saya, dan alih-alih bimbel yang sudah terlanjur dibayar untuk satu tahun, beliau bilang “Cubo juo lah tes masuak FK Unand” (translate: coba juga lah tes masuk FK Unand). Dan dengan cemas hati Mama melepas saya “bertempur” lagi. Setelah melewatkan banyak tes masuk perguruan tinggi, syukurlah masih ada 2 tes lagi, UMB dan SNMPTN. Saya memberanikan ikut UMB dan lulus di FK salah satu universitas di Sumatra yang berpenduduk mayoritas Non-Muslim, dengan tegas saya menolak dengan alasan polos: saya tidak mau mengabdi untuk Non-Muslim, dan Demi Allah saya lebih memilih terbang ke Bandung daripada kesana. Singkat cerita saya ikut SNMPTN dan Alhamdulillah lulus di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.

Kami bertemu kembali 🙂

Dengan kehidupan kampus yang sangat dinamis, saya dan Dina mengikuti fokus kegiatan berbeda. Setelah sama-sama mengikuti agenda pengkaderan di UKMF Kerohanian Islam (FSKI BEM KM FK Unand) dan UKMF Ilmiah dan Penelitian (MRC BEM KM FK Unand), kami akhirnya berada di jalan yang berbeda (namun insya Allah arahnya sama 🙂 ). Saya menjadi pengurus MRC, sedangkan Dina di FSKI. Saya juga lebih aktif di organisasi lain seperti DPM pada tahun ke-1, BEM pada tahun ke-2,BSMI, dll; sedangkan Dina lebih aktif sebagai pengurus angkatan. Tapiii Alhamdulillaah, persahabatan kami masih tetap terjaga. Hampir semua orang yang mengenal saya tau bahwa Dina adalah sahabat saya, dan begitu pula sebaliknya. Kami punya sahabat-sahabat luar biasa. Tapi tetap saja, kami “sepaket”, hehe. Awalnya sangat banyak yang protes, katanya kami “berbenteng”, susah dimasuki, tapi herannya, mereka sekarang adalah sahabat-sahabat kami J Di akhir tahun 3 kami kembali dipertemukan oelh FULDFK, kami berada di departemen yang sama dan masih aktif sebagai pengurus sampai saat ini; cuma Dina hijrah jadi koordinator IT 🙂

Jika sebelumnya selalu saya yang sepertinya cemas ditinggal Dina, kali ini situasinya terbalik.

Semuanya karena 1 hal: Skripsi.

Angkatan kami boleh dibilang penuh cobaan (karena memang selalu dikasih program percobaan). Mulai dari susunan blok yang berbeda dari angkatan sebelumnya, lalu ketika tahun 1 dan 2 tidak libur di hari santu karena kuliah dasar umum dan kegiatan FOME (Family Oriented Medical Education), lalu yang paling special adalah di tahun 3, kami wajib menulis skripsi.

Kalau IP jangan ditanya, Dina jauh lebih tinggi daripada saya. Tapi untuk bagian ini, ujian Dina jauh lebih berat daripada saya, pembimbingnya, penelitiannya, dan sebagainya. Urusannya agak rumit, jadi penyelesaiannya jadi agak terlambat. Saya masih ingat malam itu, ketika saya baru membaca sms bahwa paling lambat ujian skripsi tanggal 20 Januari 2013. Tanggal itu sangat tidak memungkinkan untuk Dina bisa mengejarnya. Malam itu saya langsun menelfon Dina, kami baru berbicara beberapa kalimat sampai akhirnya sesegukan karena hanya menangis satu sama lain.

Syukurlah… Dina dan beberapa kawan lainnya tak gentar dan tetap berjuang dan akhirnya, batasnya menjadi tanggal 30 Januari 2013. Dina akhirnya ujian, dan kami bersama 29 orang teman lainnya dari 230an teman-teman seangkatan 2009 bisa ikut Yudisium Sarjana Kedokteran Periode I 2013, assabiqunal awwalun, resmi S.Ked pada tanggal 7 Februari 2013 (Dina cumloude!). Perjuangan belum berakhir, one step bigger, saya dan teman harus mengikuti ujian masuk Co-Schap untuk mengambil profesi dokter. Setelah ujian tulis pada tanggal 8 Februari, dengan hati sedikit lega karena soalnya cuku[ banyak soal “lama” yang sudah dibahas bersama-sama, besok menghadapi pressure yang sebenarnya. Ujian praktik dengan batas waktu di setiap ruangan: 4 menit 30 detik disetiap ruangan (ada 14 ruangan), untuk menyelesaikan kasus dengan keterampilan klinis. Kabarnya dari tahun ke tahun selalu ada yang tidak lulus.

Dan hari ini (atau mungkin lebih tepatnya kemarin), 14 Februari 2013, kami dinyatakan lulus, semuanya lulus. Saya dan Dina mendapatkan kabar bahwa pengumuman resmi telah ditempelkan tepat saat kami usai melaksanakan shalat zuhur berjama’ah dan like usual, she shed tears (what a softhearted person). Kemudian kami dipersilahkan mendaftar ulang di bagian profesi RSUP M.Djamil. Kami bisa mulai orientasi pada tanggal 18 Februari 2013, dan memulai kehidupan baru sebagai “koas” seminggu berikutnya. Alhamdulillaahi rabbil’alamiin.

Satu do’a lagi kami lantunkan bersama, semoga kami bisa ikut Yudisium Dokter Periode I bersama-sama lagi, aamiin Allahumma aamiin (mohon di-aamiin-kan) :”)

Kini, kami masih bersama-sama. Bagaimana dengan selanjutnya? Wallahu’alam. Yang pasti dunia ini fana. Do’a yang sama seringkali kami utarakan: “Ya Allah jadikanlah kami sahabat di dunia dan di jannah, aamiin.” Karena kelak hanya di surga-Nya lah kita bisa bersama-sama dengan Allah, para Rasul, Malaikat, juga keluarga dan sahabat-sahabat shalih lainnya—bahagia, selamanya 🙂 And together, it feels easier to be in.

Uhibbukifillah naaa… :”)

There will still be very long long jouney. Let’s start a new beginning! Bismillaah!

Untuk saat ini, the end. 🙂