“Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.” (Q.S. Al An’am: 16)

Cerita ini bermula dari kuitansi.

Alhamdulillah satu persatu “ujian” telah saya lalui,  untuk menamatkan kuliah saya di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, jurusan S1 Pendidikan Dokter Angkatan 2009. Syarat kami untuk mendapatkan gelar S.Ked cukup sederhana kedengarannya, lulus semua blok (21 buah) dan lulus skripsi. Well, it’s not that easy. Saya dan sebagian teman lainnya cukup beruntung diberikan kemudahan oleh Allah swt dalam melewati tahap-tahap ini. Eh salah, tinggal satu blok lagi, satu lagi–kami insya Allah akan segera (baca: tiga hari lagi) melaksanakan ujian blok terakhir ini (semoga lulus tanpa remedial ya Rabb… Aamiin).

Jadi yaah, wajar saja kalau kami sudah mulai mempersiapkan hal-hal yang berkenaan dengan wisuda. Walaupun informasi untuk angkatan kami belum jelas, tentunya mesti berhati-hati, jangan sampai kesandung. Bukankah orang jatuh karena batu yang kecil?

Termasuk dua hal ini: kuitansi pembayaran SPP dan bebas kartu pustaka.

Dan how great, saya bermasalah dikeduanya. Kartu pustaka saya hilang dua-duanya di pustaka (I should tell that it’s not common thing). Saya diberikan surat keterangan tertulis darurat, saya harap bisa segera mengurus surat keterangan formalnya tanpa kesulitan berarti, aamiin. We’ll see tomorrow insha Allah.

Sedangkan kuitansi, paraaaah. Saya membuangnya. MEMBUANGNYA Crying face

How pathetic!

Sejujurnya tidak ada yang pernah memberi tahu saya bahwa menyimpan kuitansi itu penting. Saya menyimpannya untuk satu semester, tapi setelah itu, saya buang dengan tumpukan kertas-kertas dan berkas-berkas  fotokopi yang sudah tidak diperlukan lagi. Alhamdulillah saya ternyata masih beruntung, lagi. Salah seorang teman saya kehilangan salah satu kuitansinya dan telah mengurus duluan ke pihak –pihak terkait.

Saya sendiri kebetulan tadi bayar SPP untuk semester 8 (semoga untuk koas, aamiin), dan mencoba bertanya kepada pegawai bank tempat kami menyalurkan SPP. Naaah, katanya ga bisa, tapiii, sebenarnya bisa, kalau saya ingat kapan tanggal bayarnya, siapa teller-nya, … (come on??). Lalu saya mencoba ke pihak akademik yang menyimpan kuitansi asli pembayaran SPP kami, dan ibunya pun shock (maafkan saya Buu Crying face ). Ibunya jujur bilang, “Kalau cuma kuitansi yang baru bisa ibu usahakan, tapi kalau mesti dari awal ya tentulah ibu keberatan…” (maaf lagi Buuu Crying face ). Dan mungkin entah karena melihat tampang saya yang ga karuan ekspresinya (tapi ga pake nangis juga) akhirnya ibunya bilang: “Ya sudah coba ibu lihat senin ya, sekarang ibu lagi banyak kerjaan” (menurut saya itu adalah jawaban yang penuh kesabaran). Ndeeeeeh, terimakasih banyak buuuuu… :”)

Beberapa orang teman menyarankan juga untuk coba diurus ke puskom dekanat, teman yang saya  ceritakan sebelumnya juga sudah mengurusnya kesana, dan singkat cerita, alhamdulillah saya dapat semacam bukti pembayarannya, tapi tetap saja bukan kuitansi asli. Mudah-mudahan bisa digunakan, tapi tentunya lebih baik jika saya bisa mendapatkan kuitansi aslinya.

Semoga tidak ada “Lani-Lani” lainnya dan ibunya ga tambah repotnya Sad smile Aamiin, Allahumma aamiin.

Intinya: simpan kuitansi pembayaran yang penting baik-baik — simpan sampai kita benar-benar “lepas” dari instansi terkait.

Hikmah yang bisa saya petik: well, setidaknya ketika ada yang bertanya begaimana cara mengurus bukti pembayaran dan kartu pustaka yang hilang, saya tau jawabannya, hehe Open-mouthed smile

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”  (Q.S. Al Baqarah: 286)

Aamiin yaa Rabbal’aalamiin..