Indonesia kini mengalami beban berlipat. Angka kematian akibat penyakit tidak menular terus bertambah. Penyakit menular masih belum terberantas. New Emerging Disease, seperti Flu Burung dan SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) juga terus bermunculan. Dalam menjalankan peran saya sebagai seorang dokter di masa depan, bersama teman sejawat tenaga kesehatan lainnya, dibutuhkan lebih dari sekedar usaha kuratif (pengobatan) dan rehabilitatif (pemulihan)untuk mengatasi masalah ini.

Fenomena transisi kesehatan kini menjadi tantangan di dunia kesehatan Indonesia. Insiden penyakit tidak menular terus bertambah, sedangkan insiden penyakit menular masih tetap tinggi. Di Indonesia juga terjadi kesenjangan sosial yang mencolok. Pada tingkat sosial ekonomi yang rendah, penyakit infeksi seperti Tuberkulosis, Kusta, dan Diare, masih tetap tinggi. Penyakit menular lainnya, New Emerging Disease seperti Flu Burung dan SARS juga terus bermunculan, sedangkan penyakit “lama”, diantaranya Malaria, Kolera, dan Difteri, timbul kembali (Re-Emerging Disease).

Menurut penelitian oleh Prasedono dkk.(2005), di daerah Sumatera, Jawa, dan Bali jumlah kematian akibat penyakit tidak menular ditemukan lebih tinggi daripada jumlah kematian akibat penyakit menular. Akan tetapi, menurut penelitian tersebut, di Kawasan Indonesia Timur penyebab kematian utama masih merupakan penyakit menular.

Transisi kesehatan disebabkan oleh dua hal, yaitu transisi demografi dan transisi epidemiologi. Transisi demografi diakibatkan oleh perubahan-perubahan seperti urbanisasi, industrialisasi, meningkatnya pendapatan dan tingkat pendidikan, serta berkembangnya teknologi kesehatan dan kedokteran di masyarakat. Sedangkan transisi epidemiologi muncul karena perubahan pola kematian, terutama akibat infeksi, angka fertilitas total, angka harapan hidup penduduk yang semakin tinggi, dan meningkatnya penyakit tidak menular atau yang disebut juga sebagai penyakit kronik.

Menurut dr.Endang Rahayu Sedyaningsih,MPH,Dr.PH, Menteri Kesehatan Republik Indonesia 2009-2012 (2009), pembangunan kesehatan Indonesia kini diarahkan pada peningkatan upaya promotif dan preventif, selain dari peningkatan atas pelayanan kesehatan bagi masyarakat, terutama penduduk miskin. Pelayanan promotif adalah upaya meningkatkan kesehatan masyarakat ke arah yang lebih baik lagi, sedangkan preventif merupakan usaha pencegahan agar masyarakat tidak jatuh sakit atau terhindar dari penyakit. Upaya promotif dan preventif tersebut meliputi penyakit menular dan penyakit tidak menular, dengan cara memperbaiki kesehatan lingkungan, gizi, perilaku, dan kewaspadaan dini.

Dr.Adang Bachtiar,MPH,ScD (Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)) memaparkan 5 level cara promosi yang paling baik:

  1. Terus menerus melakukan perbaikan pengetahuan, sikap, dan perilaku kesehatan dari individu, keluarga, serta masyarakat.
  2. Adanya upaya sistematik dalam sistem kesehatan yang ada dengan bermacam program yang kemudian akan mendeteksi siapa sesungguhnya tokoh masyarakat yang senantiasa berjuang untuk mengubah keadaan tersebut. Contohnya MUI (Majelis Ulama Indonesia), yang dapat diadvokasi untuk membahas kasus merokok, sehingga diharapkan dapat mengeluarkan fatwa bahwa rokok adalah haram.
  3. Regulasi dalam sistem organisasi untuk menjaga kesehatan, seperti melarang anggotanya untuk merokok dengan sanksi tertentu jika melanggar aturan tersebut.
  4. Menyusun kebijakan kesehatan yang menguntungkan masyarakat.
  5. Public healthy police yang berorientasi untuk memproteksi, meningkatkan, menyadarkan, dan membangkitkan aktivitas pada setiap individu masyarakat. Hal ini dapat dilakukan dengan menyediakan sarana olahraga, sarana bersepeda di jalan, dan lain-lain.

Dalam usaha pencegahan terhadap penyakit menular dan tidak menular, terdapat beberapa perbedaan. Hal ini sehubungan dengan patogenesis (proses terjadinya penyakit) kedua jenis penyakit tersebut.

Penyakit menular (communicable disease) merupakan penyakit yang ditularkan melalui berbagai media. Penyakit menular menjadi masalah di hampir semua negara berkembang karena menyebabkan angka kesakitan dan angka kematian meningkat dalam waktu yang relatif singkat. Jenis penyakit ini timbul akut (mendadak) dan menyerang semua lapisan masyarakat. Disebabkan oleh sifatnya yang menular, penyakit-penyakit tersebut dapat menyebabkan wabah dan menimbulkan kerugian besar diberbagai bidang, seperti ekonomi dan parawisata.

Penyakit menular merupakan interaksi berbagai faktor, yaitu faktor lingkungan (environment), faktor agen penyebab penyakit (agent), dan faktor pejamu (host). Hubungan ketiga faktor tersebut digambarkan secara sederhana sebagai timbangan. Bila agen penyebab penyakit dan pejamu berada dalam keadaan seimbang, maka seseorang berada dalam keadaan sehat. Perubahan keseimbangan akan menyebabkan seseorang sehat atau sakit. Penurunan daya tahan tubuh akan menyebabkan ‘bobot’ agen penyebab penyakit menjadi lebih berat sehingga seseorang menjadi lebih berat sehingga seseorang menjadi sakit. Demikian pula bila agen penyakit lebih banyak atau lebih ganas, sedangkan faktor pejamu tetap, maka bobot agen penyebab menjadi lebih berat. Apabila faktor lingkungan berubah menjadi cenderung menguntungkan agen penyakit, maka seseorang akan menjadi sakit.

Cara pencegahan terhadap penyakit menular adalah dengan memutus rantai penularan, yaitu dengan menghentikan kontak agen penyebab penyakit dengan pejamu. Usaha tersebut lebih dititikberatkan pada penanggulangan faktor resiko penyakit, terutama lingkungan dan perilaku.

Perilaku merupakan akumulasi dari pengetahuan dan sikap terhadap kesehatan. Untuk merubah perilaku masyarakat yang tidak sehat, masyarakat harus dibekali dengan pengetahuan tentang cara-cara hidup sehat, sehingga masyarakat lebih sadar, mau, dan mampu untuk melakukan pola hidup bersih dan sehat. Perubahan perilaku tersebut sangat menentukan untuk tercapainya pencegahan terhadap penyakit menular, sebagai contoh, meskipun sumber air minum, peralatan, dan tangan sudah bersih, perilaku untuk memasak air minum sampai mendidih tetap diperlukan untuk menjamin sterilitas.

Penyakit tidak menular (non-communicable disease) ternyata telah menjadi penyumbang kematian terbesar di Asia Tenggara. Penyakit jantung, stroke, serta paru-paru kronis adalah contoh penyakit tidak menular yang menjadi tren gaya hidup saat ini. Berdasarkan data dari WHO South East Asia 2008, sebanyak 55 persen kematian disebabkan oleh penyakit tidak menular. 35 persen disebabkan oleh penyakit menular dan sisanya 10,7 persen disebabkan luka.

Penyakit tidak menular juga merupakan penyebab kematian terbanyak di Indonesia. Berdasarkan data oleh Departemen Kesahatan Republik Indonesia, proposi angka kematian akibat penyakit tidak menular meningkat dari 41,7% pada tahun 1995 menjadi 49,9% pada tahun 2001 dan 59,5% pada tahun 2007. Penyebab kematian tertinggi dari seluruh penyebab kematian adalah stroke (15,4%), disusul hipertensi, diabetes, kanker, dan penyakit paru obstruktif kronis.

Kematian akibat  penyakit tidak menular terjadi di perkotaan dan perdesaan.  Data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2007 menunjukkan di perkotaan, kematian akibat stroke pada kelompok usia 45-54 tahun sebesar 15,9%, sedangkan di perdesaan sebesar 11,5%. Hal tersebut menunjukkan penyakit tidak menular (utamanya stroke) menyerang usia produktif. Sementara itu prevalensi penyakit tidak menular lainnya cukup tinggi, yaitu:  hipertensi (31,7%), arthritis (30.3%), penyakit jantung (7.2%), dan cedera (7,5%).

Penyakit tidak menular dipicu berbagai faktor risiko antara lain merokok, diet yang tidak sehat, kurang aktivitas fisik, dan gaya hidup  tidak sehat. Riskesdas 2007 melaporkan, 34,7% penduduk usia 15 tahun ke atas merokok setiap hari, 93,6% kurang konsumsi buah dan sayur serta 48,2% kurang aktivitas fisik.

Peningkatan penyakit tidak menular berdampak negatif pada ekonomi dan produktivitas bangsa. Pengobatan penyakit tidak menular  seringkali memakan waktu lama dan memerlukan biaya besar. Beberapa jenis penyakit tidak menular adalah penyakit kronik dan/atau katastropik yang dapat mengganggu ekonomi penderita dan keluarganya. Selain itu, salah satu dampak PTM adalah terjadinya kecacatan termasuk kecacatan permanen.

Dalam usaha pencegahan penyakit tidak menular, penting untuk mengetahui perilaku berisiko dan faktor risiko perantara penyakit. Tiga perilaku berisiko yang merupakan penyebab penyakit tidak menular utama (Penyakit Jantung Koroner, Stroke, Diabetes Mellitus, Penyakit Pembuluh Darah, Penyakit Paru Kronik, dan Keganasan) adalah merokok, perilaku kurang makan makanan berserat (buah dan sayur), dan kurang gerak.  Faktor risiko perantara penyakit tidak menular diantara lain adalah tekanan darah tinggi, gula darah meningkat, kelebihan berat badan, dan hiperkolesterolemia.

Pencegahan terhadap penyakit tidak menular dapat dilakukan dengan menghentikan perilaku berisiko yang telah disebutkan diatas. Deteksi dini dan penanggulangan faktor risiko perantara juga penting untuk dilakukan, karena faktor risiko yang ditemukan saat ini, merupakan gambaran penyakit di masa yang akan datang.

Penanganan penyakit tidak menular tidak hanya cukup pada tindakan kuratif dan rehabilitatif. Sebagai contoh, kepada setiap penderita diabetes, selain pemberian obat-obatan dan bimbingan diet yang sesuai dengan kebutuhan, para penderita dan keluarga juga berhak mendapatkan edukasi. Sebagai tindakan preventif, seorang dokter harus bersedia meluangkn waktu untuk menerangkan kepada keluarga bahwa risiko keluarga untuk terkena penyakit diabetes juga lebih tinggi, oleh karena itu harus menjaga pola makan sehat dan seimbang, berikut rinciannya. Tindakan tersebut tidak akan berdampak cepat di masa kini, tapi akan membantu untuk tidak bertambahnya penderita penyakit tersebut di masa depan. Masyarakat juga akan lebih mandiri dalam menjaga kesehatannya, dan tentunya cita-cita untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera akan lebih dekat untuk diwujudkan seiring dengan meningkatnya kualitas hidup setiap individu.

Oleh karena itu, transisi kesehatan bukanlah menjadi masalah yang mustahil untuk diatasi bangsa ini, jika tenaga kesehatan dan semua pihak yang terkait peduli akan hal ini. Bahwa yang dibutuhkan masyarakat tidak cukup hanya kata “sembuh” tapi juga “jauh” dari penyakit-penyakit tersebut. Penatalaksanaan yang komprehensif meliputi promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif, akan membantu mewujudkan masyarakat sehat yang mandiri dan sejahtera.