Berawal dari skills lab di minggu pertama blok pertama saya di semester terakhir (aamin… insya Allah), ketika tutor saya menolak untuk mempraktekkan bagaimana cara menggunakan obat tetes mata yang baik dan benar. Hal tersebut dengan alasan yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya, “Saya tidak berani kalau nanti puasa  Saudara batal.” , lalu dengan tersenyum beliau berkata, “ Ingat anatomi ductus lacrimalis?”. Seketika saya membatin, “Oiya!”

Tidak berbeda dengan Ramadhan sebelumnya, proses belajar mengajar di kampus saya, dan juga mungkin semua kampus pada umumnya, berjalan seperti biasa. Di tengah terik matahari, kami ‘bersembunyi’ di ruangan-ruangan ber-AC menikmati ilmu yang tetap dengan semangat disampaikan oleh para dosen meskipun tidak ada lagi minuman yang tersaji di atas meja, hehe.

Selain menjalani perkuliahan, sekali seminggu, kami juga menjalani skills lab, semacam pembelajaran teori yang diikuti praktek, berkenaan dengan keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang dokter. Materi pertama skillslab pada blok ini adalah “Seri Keterampilan Komunikasi dalam Penulisan Resep Topikal”. Obat topikal/obat luar adalah obat yang diberikan selain melalui oral atau mulut, dapat diberikan melalui kulit, mata, hidung, telinga, anus, atau vagina. Pemberian obat pada kulit dapat bersifat lokal maupun sistemik, biasanya obat diberikan dalam bentuk krim, salap, atau cairan. Obat untuk hidung diberikan dalam bentuk uap dan cairan (tetes, cuci, dan semprot). Sedangkan obat untuk telinga  diberikan dalam bentuk cairan (tetes dan cuci).

Sebelum praktek, seperti biasa, tutor skills lab kami menjelaskan mengenai teori yang harus kami pahami sambil memdemonstrasikan apa yang harus kami pelajari untuk dilakukan. Saya dan tujuh orang kawan kelompok saya beruntung karena mendapatkan tutor seorang dosen langsung dari bagian farmakologi, dr.Laila Isrona. Setelah menjelaskan beberapa hal mengenai penulisan resep, beliau menjelaskan mengenai contoh sediaan obat dan cara pemakaiannya dengan contoh obat-obatan terkait yang telah cukup lengkap disediakan fakultas, Ketika menunjukkan kepada kami obat tetes mata (yang ini bukan “obat” juga sih, tapi tear film, yaitu air mata buatan untuk menyegarkan mata, lazim diresepkan oleh dokter mata), juga cara membuka, memakai, dan meneteskannya, hingga menutupnya kembali (namun tidak benar-benar diteteskan), beliau berceletuk, “Wah, sayang kita lagi puasa ya, jadi tidak bisa dicobakan, saya tidak berani kalau nanti puasa Saudara batal.”, melihat wajah kami yang bingung, sembari tersenyum beliau melanjutkan, “Ingatkan anatomi ductus lacrimalis?”. Hooooo…! I see!

Pernah kepikiran kah, kalau kita nangis, pasti meler? Open-mouthed smile

Naaah, hal tersebut disebabkan karena terdapat saluran (canal) yang mengalirkan air dari bagian luar mata ke bagian hidung (nasal), sehingga saluran ini juga disebut sebagai canaliculus nasolacrimalis (lacrimal = air mata). Maka dapat dimengerti bahwa air mata dapat mengalir kedalam lubang hidung tanpa kita sadari, termasuk air mata ‘tambahan’ ketika meneteskan obat, ataupun tear film.

nasal_lac8

Perlu diingat kembali, kita sering mendengar istilah telinga hidung tenggorokan. Hal tersebut memang karena ketiga organ tersebut saling berhubungan. Mari kita perhatikan hubungan antara hidung (nasal) dan hulu kerongkongan (pharynx) pada gambar berikut; terlihat bahwa hulu kerongkongan (pharinx) berlanjut menjadi kerongkongan (esophagus) dan saluran pencernaan seterusnya, serta juga berlanjut katup epiglotis terus ke tenggorokan (larynx) untuk seterusnya ke saluran pernafasan.

structures-in-the-nose-throat-anatomy

Maka yang dikhawatirkan dosen saya memanglah beralasan, karena memang ada risiko yang sangat besar ketika kita mengalirkan cairan di bagian luar mata, maka cairan tersebut akan  mengalir ke hidung, lanjut ke kerongkongan tanpa  kita sadari. Sedangkan salah satu hal yang membatalkan puasa adalah makan dan minum dengan sengaja, dimana lebih kurang pengertian ataupun batasan kedua hal tersebut adalah ketika sesuatu masuk ke kerongkongan berlanjut ke saluran perncernaan. Perlu ditekankan, bahwa penggunaan obat adalah hal yang tentunya dilakukan dengan sengaja.

Jadi jelaslah kenapa menggunakan obat tetes mata pada saat menjalankan ibadah puasa berisiko dapat membatalkan puasa. Wallahu’alam bisshowab.

Salam semangat Ramadhan, sepuluh hari terakhir! Smile

Nb: Silahkan klik gambar untuk melihat sumber gambar