Sinar ultraviolet secara umum dikenali oleh masyarakat awam sebagai penyebab berbagai penyakit pada kulit seperti melanoma dan berbagai keluhan kosmetik seperti kulit menghitam. Sinar ultraviolet merupakan komponen dari sinar matahari yang tidak tampak oleh mata. Namun, ultraviolet ternyata tidak hanya memiliki dampak negatif bagi kesehatan, tetapi juga bermanfaat untuk terapi penyakit vitiligo.

1.                  Pendahuluan

Vitiligo adalah penyakit kulit didapat yang ditandai dengan lesi putih yang tidak berpigmen di kulit karena kehilangan fungsi dari melanosit. Prevalensi vitiligo cukup tinggi, yaitu berkisar antara 0.1-2 % dari seluruh penduduk dunia. Terapi terbaru pada vitiligo yang dikembangkan menggunakan UV-B pada penyakit vitiligo adalah Narrowband Ultraviolet B (NB-UVB).

Oleh karena itu, penulisan untuk mengetahui bagaimana manfaat UV-B, yang digunakan sebagai NB-UVB, untuk mengobati penyakit vitiligo penting untuk dilaksanakan. Hal ini diperlukan agar masyarakat mengetahui manfaat dari sinar ultraviolet, serta mengingat prevalensi penyakit vitiligo yang cukup tinggi di dunia, sehingga pentingnya peningkatan kualitas pengobatan bagi pasien dengan teknologi terbaru yang aman dan efisien.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka masalah yang dibahas adalah: bagaimanakah manfaat UVB yang digunakan sebagai terapi NB-UVB pada pasien vitiligo? Tujuan penulisan adalah untuk mengetahui bagaimanakah manfaat UVB yang digunakan sebagai terapi NB-UVB pada pasien vitiligo.

Penulisan ini dapat membantu masyarakat untuk mengetahui lebih banyak mengenai manfaat sinar ultraviolet pada terapi penyakit vitiligo. Penulisan ini difokuskan pada penggunaan terapi NB-UVB pada  terapi penyakit vitiligo. Penulisan ini juga dapat dimanfaatkan oleh peneliti selanjutnya untuk mengetahui metode yang tepat dalam penggunaan NB-UVB.

Penulisan dilakukan dengan membaca literatur terkait. Sumber data pada penelitian ini adalah buku teks kedokteran, jurnal, situs-situs kedokteran, dan lain-lain. Kemudian data dianalisis dan disajikan dalam artikel ilmiah.

Ultraviolet dibagi menjadi dua segmen utama, yaitu UV-B dan UV-A. UV-B mempunyai panjang gelombang antara 290-320 nm. UV-B dapat menyebabkan kemerahan atau erythema pada kulit manusia. Sedangkan UV-A, mempunyai panjang gelombang antara 320-400 nm, dan mempunyai kemampuan 1000 kali lebih kecil daripada UV-B untuk menyebabkan kemerahan atau erythema.

Ultraviolet ternyata tidak hanya memiliki efek negatif, akan tetapi juga memiliki efek positif. Fototerapi, atau terapi menggunakan cahaya, terutama dengan menggunakan gelombang ultraviolet, sedang marak dikembangkan. Salah satu penyakit yang dapat ditatalaksana menggunakan sinar ultraviolet adalah vitiligo.

Dasar dari pengembangan terapi pada vitiligo adalah efek pemaparan UV-B yang dapat memicu perpindahan pigmen kulit atau melanosit menuju permukaan kulit dan juga memicu produksi melanosit tambahan, menyebabkan kulit bewarna kecoklatan. Terapi terbaru yang dikembangkan menggunakan UV-B pada penyakit vitiligo adalah Narrowband Ultraviolet B (NB-UVB). NB-UVB merupakan terapi dengan menggunakan lampu ultraviolet dengan pemancaran maksimal 311 nm (Majid, 2010). Saat ini, NB-UVB merupakan terapi pilihan pertama pada penyakit ini karena aman dan efektif pada pasien anak maupun dewasa dengan generalized vitiligo.

Gambar 1. Generalized Vitiligo

2.                  Pembahasan

2.1              Vitiligo

Vitiligo adalah gangguan pigmentasi yang didapat, ditandai dengan lesi yang tidak berpigmentasi, yang disebabkan karena hilangnya fungsi melanosit dari epidermis. Kriteria diagnostik, terutama klinis, berdasarkan hasil pemeriksaan yang diperoleh, yaitu lesi putih pada kulit, tanpa peradangan terkait yang cenderung untuk memperbesar sentrifugal.

Klasifikasi terbaru vitiligo membagi vitiligo secara klinis menjadi dua jenis: segmental (tipe B) dan nonsegmental (Tipe A). Tipe B lebih jarang dan memiliki distribusi dermatomal; setelah onset cepat dan mengalami perkembangan, biasanya memiliki perjalanan penyakit yang lebih stabil. Tipe A lebih sering ditemukan, serta memiliki potensi evolusi seumur hidup, dan berhubungan dengan fenomena Koebner dan sering berkaitan dengan penyakit autoimun seperti gangguan tiroid, Diabetes Melitus Tipe 1, Anemia Pernisiosa, dan Penyakit Addison.

Klasifikasi klinis lainnya adalah klasifikasi Nordlund berdasarkan distribusi dan perluasan lesi, yaitu vitiligo lokal, general, dan universal. Vitiligo Lokal diklasifikasikan menjadi bentuk fokal (satu atau lebih bercak di satu daerah tetapi tidak dalam satu pola segmental) dan segmental (satu atau lebih makulapada distribusi dermatoma). Vitiligo General dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu akrofasial (mempengaruhi wajah dan distal ekstremitas), vulgaris (varietas yang paling umum, dengan distribusi lesi yang simeteris pada zona khas), dan campuran (ditambah segmantalis vulgaris atau) acrofacialis. Sedangkan pada Vitiligo Universal, melibatkan lebih dari 80% dari tubuh.

Penyebab vitiligo masih belum diketahui secara pasti, tetapi peneliti dan dokter telah mengemukakan beberapa teori. Terdapat bukti kuat bahwa pasien vitiligo mewarisi sekelompok gen yang menyebabkan mereka rentan terhadap depigmentasi. Teori yang paling banyak diterima adalah depigmentasi terjadi karena vitiligo reaksi autoimun, yaitu penyakit yang pada penderitanya terdapat sistem kekebalan tubuh yang bereaksi terhadap organ atau jaringan tubuhnya sendiri. Tubuh penderita tersebut memproduksi protein yang disebut sitokin yang mengubah sel-sel penderita yang memproduksi pigmen, dan menyebabkan sel-sel tersebut mati. Teori lain adalah melanosit menghancurkan diri mereka sendiri.

2.2              Terapi NB-UVB pada Penyakit Vitiligo

NB-UVB merupakan terapi dengan menggunakan lampu ultraviolet dengan pemancaran maksimal 311 nm (Majid, 2010). Saat ini, NB-UVB merupakan terapi pilihan pertama pada penyakit ini karena aman dan efektif pada pasien anak maupun dewasa dengan generalized vitiligo.

Gambar 2. NB-UVB

Narrowband Ultraviolet B (NB-UVB) menyebabkan repigmentasi dari bercak vitiligo setidaknya dua kali lipat dengan cara:

(a) imunosupresi untuk menghentikan pembunuhan melanosit membunuh

(b) memulihkan pigmentasi melalui peningkatan jumlah melanosit.

UVB mempunyai efek imunomodulator yang dapat menstabilisasi respon imun yang abnormal pada penderita vitiligo. Stimulasi melanosit folikular terjadi karena NB-UVB mengaktivisasi melanosit inaktif pada outer root seath folikel rambut di bagian tengah dan bawah. Melanosit inaktif mengandung protein melanosomal tapi tidak mempunyai enzim yang dibutuhkan untuk melanogenesis. Pengaktivisasian sel melanosit di outer root seath ini menyebabkan sel-sel tersebut berploriferasi dan bermigrasi dari folikel rambut ke epidermis dan menyebar secara sentrifugal.

Gambar 3. Penggunaan NB-UVB

Pada penelitian yang dilakukan oleh Marina Hapsari dan beberapa peneliti pembantu lainya dari Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada/RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta pada 7 orang pasien vitiligo pada bulan Januari-Desember 2005, pengobatan menggunakan terapi NB-UVB terbukti efektif. Dalam jangka waktu 1 tahun, terjadi repigmentasi sebesar <25% pada lima orang pasien, 26-50% pada satu rang pasien, dan >75% pada pasien lainnya. Perbedaan kecepatan respon terapi diduga berhubungan dengan letak anatomis lesi. Hipotesis ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

 3.                  Penutup

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, diketahui bahwa UVB dapat dimanfaatkan sebagai terapi pada pasien vitiligo dalam bentuk NB-UVB. NB-UVB dapat meningkatkan repigmentasi pada penyakit vitiligo dengan memicu imunosupresi dan produksi sel melanosit serta mengaktivasi sel-sel melanosit inaktif.

DAFTAR PUSTAKA

Dresbach, Sereana Howard, Wanda Brown. “Ultraviolet Radiation”. 2008. http://ohioline.osu.edu/cd-fact/pdf/0199.pdf. Diakses pada tanggal 16 Mei 2010, pukul 14:30 WIB.

Fauci, Anthony S., dkk. Harrison’s Principles of Internal Medicine. 2008. United States: McGraw-Hill.

Hapsari, Munira, dkk. “Fototerapi Narrorband UVB (NB-UVB) pada Vitiligo”. 2008. http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/14208103107.pdf. Diakses pada tanggal 16 Mei 2010, pukul 14:30 WIB.

Lotti, Torello, dkk. Vitiligo: new and emerging treatments. Dermathologic Therapy Volume 21. United States: Blackwell Publishing Inc. 2008.

Majid, Imran. “Vitiligo Management: An Update”. British Journal of Medical Practitioner Volume 3. 2010.

Matin, Rubeta. “Vitiligo in Adults and Children”. Clinical Evidence. 2011. http://clinicalevidence.bmj.com/ceweb/conditions/skd/1717/1717-get.pdf. Diakses pada tanggal 16 Mei 2010, pukul 14:30 WIB.