Insiden kanker serviks yang semakin mengkhawatirkan, menyebabkan wanita semakin waspada terhadap hal-hal yang dapat memicu kanker tersebut. Menurut Yayasan Kanker Indonesia, diperkirakan setiap tahun ada 15 ribu kasus baru kanker serviks di Indonesia. Salah satu yang hangat diperbincangkan adalah mengenai penggunaan pembalut yang dapat diduga dapat memicu kanker serviks. Sebagai salah satu solusinya, penggunaan pembalut herbal sebagai penggantinya marak digembar-gemborkan. Tetapi benarkah menggunakan pembalut herbal benar-benar efektif untuk mencegah terjadinya kanker serviks?

Pembalut adalah sebuah perangkat yang digunakan oleh wanita di saat menstruasi yang berfungsi untuk menyerap darah dari vagina dengan tujuan untuk menjaga kebersihan dan kenyamanan. Selain digunakan saat menstruasi, perangkat ini juga digunakan setelah pembedahan vagina, setelah melahirkan, sesudah aborsi, maupun pada situasi lainnya yang membutuhkan pembalut untuk menyerap setiap cairan yang berupa pendarahan dari vagina (http://id.wikipedia.org).

Marak diberitakan, bahwa banyak produsen pembalut mendaur ulang bahan baku kertas bekas dan pulp (bubur kertas) menjadi bahan baku untuk menghemat biaya produksi dan mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Dalam proses daur ulang, banyak bahan kimia digunakan dalam proses pemutihan kembali (bleaching), menghilangkan bau, dan proses sterilisasi kuman-kuman pada kertas bekas. Pembalut yang diproduksi banyak mengandung zat dioxin yang berbahaya, serta tidak dijamin steril, sehingga diduga dapat menyebabkan terjadinya gangguan organ reproduksi perempuan.

Sedangkan menurut produsen pembalut herbal, pembalut herbal merupakan pembalut yang terbuat dari 100% kapas bekualitas tinggi dengan kandungan berbagai bahan herbal alami yang sehat, aman, memiliki daya serap tinggi, dan dapat digunakan untuk mengatasi berbagai macam masalah kewanitaan. Dengan berbagai kelebihan yang ditawarkan, pembalut herbal dijual dengan harga yang relatif jauh lebih mahal daripada pembalut biasa.


Gambar 1. Anatomi sistem reproduksi wanita (http://www.cancer.gov)

Serviks atau leher rahim merupakan untuk bagian terendah dari rahim. Rahim adalah organ yang perempuan hanya memiliki, dimana janin dapat tumbuh dan berkembang. Leher rahim menghubungkan rahim dengan jalan lahir (vagina).

Kanker serviks berkembang ketika sel-sel di leher rahim mulai tumbuh di luar kendali dan kemudian dapat menyerang jaringan di sekitarnya atau menyebar ke seluruh tubuh (http://www.oncolink.org). Kanker merupakan penyakit keganasan dengan perjalan alami yang sangat fatal. Sel-sel kanker, tidak seperti tumor jinak, menunjukkan sifat invasi dan metastasis dan dangat anaplastik (Dorland, 2002). Menurut Centers for Disease Control and Prevention, semua wanita beresiko kanker serviks, dengan insiden biasanya pada wanita dengan umur lebih dari 30 tahun.

Untuk mencegah terjadinya kanker serviks, cara yang paling tepat adalah denga mengetahui faktor-faktor yang dapat meningkatkan resiko kanker serviks dan menghindari faktor-faktor resiko tersebut. Menurut National Cancer Institute of United States, berikut merupakan faktor-faktor resiko kanker serviks:

1.      Infeksi HPV

Penyebab paling umum dari kanker serviks adalah infeksi pada serviks dengan human papillomavirus (HPV). Dari 80 jenis human papillomavirus, sekitar 30 jenis dapat menginfeksi serviks dan sekitar setengah dari virus-virus tersebut merupakan penyebab kanker serviks. Infeksi HPV yang menyebabkan kanker leher rahim menyebar terutama ditularkan melalui hubungan seksual. Wanita yang aktif secara seksual pada usia muda dan memiliki banyak pasangan seksual memiliki risiko yang lebih besar infeksi HPV dan kanker serviks.

HPV dapat dicegah dengan:

– Menghindari aktivitas seksual bebas: infeksi HPV serviks adalah penyebab paling umum dari kanker serviks. Menghindari aktivitas seksual yang bebab akan mengurangi risiko infeksi HPV.

– Menggunakan proteksi penghalang atau gel spermisida: Beberapa metode yang digunakan untuk mencegah penyakit menular seksual (PMS) mengurangi risiko infeksi HPV. Penggunaan metode pengendalian kelahiran penghalang (seperti kondom atau gel yang membunuh sperma) membantu melindungi terhadap infeksi HPV.

ü  Mendapatkan Vaksin HPV: Vaksin HPV telah disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA). Vaksin HPV telah terbukti untuk mencegah infeksi dengan dua jenis HPV yang menyebabkan kanker yang paling serviks. Vaksin ini melindungi terhadap infeksi dengan jenis HPV selama 6 sampai 8 tahun. Hal ini tidak diketahui apakah perlindungan berlangsung lebih lama. Vaksin ini tidak melindungi perempuan yang sudah terinfeksi dengan HPV.

2.      Merokok

Merokok dan menghirup asap rokok meningkatkan risiko kanker serviks. Di antara perempuan terinfeksi HPV, displasia dan kanker invasif terjadi 2 sampai 3 kali lebih sering pada perokok. Asap rokok menyebabkan kenaikan lebih kecil dalam risiko.

 

Cara-cara lain yang dapat mencegah terjadinya kanker serviks antara lain adalah menjalani gaya hidup yang sehat dengan menghindari makanan-makanan yang tidak sehat dan berlemak. Tidak kalah penting, wanita dengan umur diatas 35 tahun dianjurkan untuk melakukan skrining terhadap kemungkinan kanker serviks (contohnya dengan pemeriksaaan Paps Smear) serta melakukan pengobatan segera jika ditemukan kanker. Hal ini penting, karena seperti yang dikemukakan oleh Prof. DR. Ir. Andrijono, Sp.OG, Ketua Kehormatan Panitia Penyelenggara Pertemuan Asia Ocearia Research Organization in Genital Infection and Neoplasia (AOGIN) di Kuta Bali pada hari Kamis tanggal 17 Maret 2011, bahwa lebih dari 70% kasus kanker serviks ditemukan pada stadium lanjut yaitu diatas stadium II B (Suryana, 2011).

Berdasarkan Sistem FIGO (Federasi Internasional Ahli Kandungan dan Dokter Kandungan), berikut merupakan stadium-stadium pada kanker serviks (Dolinsky, 2011):

  • Stadium IA : mikroskopik kanker cervix terbatas.
  • Stadium IB :kanker terlihat dengan mata telanjang terbatas pada leher rahim.
  • Stadium II :            kanker rahim menyerang di luar rahim tetapi tidak ke dinding panggul atau lebih rendah 1 / 3 dari vagina.
  • Stadium III : kanker serviks menyerang ke dinding panggul dan / atau lebih rendah 1 / 3 dari vagina dan / atau menyebabkan ginjal tidak berfungsi.
  • Stadium IVA : kanker leher rahim yang menyerang kandung kemih atau rektum, atau melampaui panggul.
  • Stadium IVB : metastasis jauh (menyebar ke area lain dari tubuh seperti paru-paru.

Berdasarkan fakta-fakta tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa jenis pembalut yang digunakan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap insiden kanker serviks. Hal ini sesuai dengan pernyataan dr. Rachmad Poedyo Armanto, Sp.OG, yaitu tidak ada kategori khusus dalam pemilihan pembalut wanita. Hal yang perlu diperhatikan adalah pembalut tersebut dapat efektif menyerap darah haid, dan hal tersebut terpenuhi jika pembalut sering diganti. Mengenai frekuensi penggantian, hal tersebut sangat individual, karena jumlah darah menstruasi setiap wanita berbeda-beda. Selain itu, jika pembalut telah terasa ‘penuh’ tidak segera dibersihkan, dapat menjadi media pertumbuhan bakteri maupun jamur, karena pH vagina berkisar 4,5, sedangkan darah menstruasi cenderung bersifat basa. Lagipula, antibakteri di pembalut hanya bekerja pada bagian luar alat kelamin wanita dan tidak memberikan pengaruh langsung pada serviks (http://doktersehat.com).

Pernyataan tersebut juga didukung oleh pernyataan Laila Nuranna MD PhD, Konsultan Ginekologi dan Onkologi Departemen Obstetrik dan Ginekologi Divisi Onkologi Universitas Indonesia/RSCM usai seminar “Recent Management of Cancer in Men and Women” pada tanggal 7  April 2011, ketika beliau dimintai keterangan mengenai dugaan bahwa pembalut herbal dapat mencegah kanker serviks, “Saya tidak mendukung itu. Tidak ada satupun kajian ataupun diskusi internasional yang membahasnya. Itu hanya trik dagang saja. Tidak masuk akal,” tutur beliau (Yulianti, 2011).

Berdasarkan pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa pembalut herbal bukan solusi yang efektif dalam mencegah kanker serviks. Pembalut herbal hanya melindungi alat kelamin wanita pada bagian luar saja. Selain itu, belum ada kajian ilmiah internasional yang membuktikan hipotesis bahwa pembalut herbal dapat mencegah kanker serviks. Cara yang terbaik untuk mengurangi resiko terkena kanker serviks adalah dengan mengenali faktor-faktor resiko kanker serviks dan menghindari faktor-faktor tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Dolinsky, Christopher, Christine Hill-Kayser. 2011. “Cervical Cancer: The Basics”.
http://www.oncolink.org/types/article.cfm?c=6&s=17&ss=129&id=8226&CFID=12346944&CFTOKEN=26836493. Diakses pada tanggal 10 April 2011, pukul 21:00 WIB.

Dorland, W.A. Newman. 2002. Kamus Kedokteran Dorland. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Suryana, Gede Ruta. 2011. “Tiap Jam Satu Penderita Kanker Serviks di Indonesia Meninggal”. http://www.mediaindonesia.com/read/2011/03/03/211011/71/14/Tiap-Jam-Satu-Penderita-Kanker-Serviks-di-Indonesia-Meninggal. Diakses pada tanggal 10 April 2011, pukul 21:00 WIB.

Yulianti, Fitri. 2011. “Pembalut Herbal Cegah Kanker Serviks, Benarkah?”. http://lifestyle.okezone.com/read/2011/04/08/195/443841/pembalut-herbal-cegah-kanker-serviks-benarkah. Diakses pada tanggal 17 April 2011, pukul 07:50 WIB.

http://www.cancer.gov/cancertopics/pdq/prevention/cervical/Patient/page3. Diakses pada tanggal 10 April 2011, pukul 21:00 WIB.

http://www.cancer.gov/cancertopics/pdq/treatment/cervical/Patient/page1. Diakses pada tanggal 10 April 2011, pukul 21:00 WIB.

http://www.cdc.gov/cancer/cervical/. Diakses pada tanggal 10 April 2011, pukul 21:00 WIB.

http://doktersehat.com/2010/02/26/bagaimana-cara-memilih-pembalut/. Diakses pada tanggal 10 April 2011, pukul 21:00 WIB.

http://galeribisnisbunda.wordpress.com/pembalut-herbal-avail/. Diakses pada tanggal 16 April 2011, pukul 08:05 WIB.

http://id.wikipedia.org/wiki/Pembalut_wanita. Diakses pada tanggal 16 April 2011, pukul 08:05 WIB.

http://www.litbang.depkes.go.id/aktual/kliping/kanker130507.htm. Diakses pada tanggal 16 April 2011, pukul 08:05 WIB.

http://nutrisisehat.wordpress.com/2011/02/12/bahaya-zat-dioxin-pada-pembalut/. Diakses pada tanggal 10 April 2011, pukul 21:00 WIB.