Meskipun baru ditemukan pada pertengahan abad ke-20, autisme mampu menarik perhatian dunia. Penelitian mengenai faktor penyebab dan pengobatannya begitu gencar dilakukan oleh para ahli. Namun masyarakat seakan-akan masih terisolasi dengan berbagai informasi penting mengenai autisme dan masih saja banyak yang meyakini mitos bahwa penyebab autisme pada anak adalah kesalahan pola asuh dari orang tua. Padahal, teori yang diduga oleh para dokter pada tahun 1940-an ini telah lama terbantahkan. Berdasarkan berbagai penelitian, telah ditemukan banyak faktor yang merupakan etiologi autisme, tetapi tidak satu pun yang berhubungan dengan pola asuh orang tua. Orang tua kerap kali menjadi pihak yang terpojokkan dan dipersalahkan, padahal peranannya dalam proses diagnosis hingga pengobatan dan terapi adalah yang utama.

Istilah autisme bukan lagi istilah yang asing bagi masyarakat dunia. Perkembangannya begitu pesat, padahal autisme sendiri baru ditemukan pada tahun 1943 oleh Dr. Leo Kanner dari Johns Hopkins Hospital¸ dengan meneliti sebelas orang anak yang menunjukkan kekurangtertarikan untuk berinteraksi dengan orang lain tetapi sangat tertarik pada aspek-aspek yang tidak biasa pada lingkungan berupa benda mati. Dr. Leo Kanner memperkenalkan gangguan mental pada anak ini dengan istilah early infantile autism.

Autisme, yang juga disebut sebagai “Autisme Klasik”, merupakan tipe yang paling sering ditemukan dari Autism Spectrum Disorders (ASD), yaitu sindrom yang menyebabkan gangguan pada kemampuan sosial, komunikasi, dan perilaku. Penderita ASD mengolah informasi di otak mereka denga cara yang berbeda dari orang lain pada umumnya. Autisme muncul sebelum usia 30 bulan dengan gejala utama berupa gangguan komunikasi verbal dan non-verbal, ketidakmampuan dalam berinteraksi sosial, dan pola kebiasaan yang abnormal berupa gerakan tubuh yang stereotipik, minat yang sangat sempit, dan perilaku ritualistik serta obsesif. Anak autis menghabiskan waktunya untuk bermain sendiri dan memiliki kontak mata yang minimal. Anak dengan autisme mengalami pertumbuhan yang normal dengan intelegensi yang beragam, kepekaannya terhadap rasa sakit cenderung berkurang, tetapi justru sangat sensitif terhadap sensasi seperti suara, sentuhan, dan berbagai stimulasi sensorik, sehingga sering tidak suka digendong atau dipeluk.

Perkembangan dan pembahasan mengenai autisme yang begitu pesat ini tentunya dipengaruhi oleh insidennya yang bertambah dengan pesat dari tahun ke tahun.  Menurut data Centre of Disease Control (CDC) Amerika Serikat, insiden autisme telah bertambah dari 1 dari 150 anak pada tahun 2002 menjadi 1 dari 110 anak pada tahun 2006. Di Indonesia sendiri, pada tahun 2004, telah terdapat 475.000 anak autis. Dari program CDC Based-Atlanta terbaru juga ditemukan rasio gangguan spektrum autisme adalah 3,4 per 1.000 pada anak-anak berusia 3-10 tahun. Berdasarkan penelitian tersebut dan beberapa penelitian besar lainnya mengenai prevalensi autisme, CDC memperkirakan terdapat 2-6 per 1.000 anak-anak dengan ASD.

Namun sangat disayangkan, meskipun penelitian mengenai autisme begitu berkembang dengan pesat, masyarakat seakan-akan masih terisolasi dari berbagai informasi penting mengenai gangguan ini. Mitos bahwa autisme pada anak disebabkan oleh pola asuh yang salah pada orang tua masih melekat di masyakat. Orang tua dari anak autis seringkali diidentikkan dengan orang yang super sibuk sehingga kurang perhatian terhadap anak, orang tua yang berprilaku apatis terhadap anak, dan berbagai stigma negatif lainnya.

Pada tahun 1940-an, pada awal autisme ditemukan, para dokter memang menduga bahwa autisme terjadi pada anak-anak disebabkan oleh sikap orang tua yang “dingin” dan tidak memberikan perhatian kepada anaknya dengan baik. Namun begitu banyak penelitian hingga masa sekarang telah membantah teori tersebut dan mentransformasinya menjadi mitos kuno yang masih banyak dipercayai oleh masyarakat pada abad ke-20 ini.

Sampai saat ini, telah terdapat begitu banyak teori yang mencoba menjelaskan etiologi atau faktor penyebab dari autisme, Mash & Wolfe (2005) membaginya berdasarkan 3 teori utama yakni:

1.      Masalah pada tahap pertumbuhan awal, yakni berupa masalah kesehatan ibu semasa hamil dan semasa melahirkan. Kelahiran yang prematur, pendarahan semasa hamil, toxemia, infeksi, serta kelemahan pasca melahirkan diidentifikasikan sebagai kondisi yang dapat menimbulkan autis pada anak.

2.      Faktor genetik, yakni manakala terjadi mutasi gen atau kromosom.

3.      Abnormalitas sistem syaraf, yakni tepatnya pada bagian lobus frontalis (fungsi: kognisi sosial), serebelum (berperan pada gerakan motorik, bahasa, pembelajaran, emosi, pemikiran dan atensi), lobus temporalis media (fungsi: kognisi sosial) dan sistem limbic (sebagai bagian yang mengatur regulasi emosi, pembelajaran dan memori).

Dari berbagai teori ini, etiologi yang banyak disepakati para peneliti sebagai faktor utama adalah genetik. Hal ini dapat dibuktikan dari resiko autisme yang lebih tinggi jika terdapat riwayat keluarga. Keluarga yang mempunyai anak autis memiliki resiko rekurensi 6-8% untuk kembali memiliki anak autis, 65% saudara kembar sama-sama mengidap autisme, dan pada setiap individu yang pernah mengalami autisme diestimasikan akan menurunkan autisme pada anaknya sebesar 90%. Autisme juga diyakini sebagai penyakit genetik karena insidennya dipengaruhi oleh kromosom X, sehingga perbandingan anak autis laki-laki dengan anak perempuan adalah 3-4:1.

Berbeda dengan yang pengetahuan yang populer di masa lalu, pengaruh perawatan perinatal atau pola asuh perwatan orang tua paska kelahiran sama sekali tidak ada. Anggapan negatif pada masa lalu ini tentunya sangat memojokkan pihak orang tua dan memberikan efek negatif terhadap prognosis anak autis. Keberadaan anak autis dianggap sebagai aib bagi keluarga, diagnosis autisme pada anak seringkali disangkal sebelum akhirnya diterima. Sementara proses terapi dan pengobatan bagi anak terus tertunda, padahal jika dilakukan lebih awal akan mempercepat proses perbaikan pola tingkah laku dan menekan biaya pengobatan dan terapi.

Orang tua yang telah merasa terpojok dan berkecil hati karena dianggap mengasuh anak dengan cara yang tidak tepat, juga dapat menyebabkan orang tua menjadi takut untuk ikut terlibat dalam terapi anak autis. Padahal, keterlibatan orang tua sangat dibutuhkan bahkan sejak dari awal anamnesis untuk menegakkan, karena sampai saat ini, diagnosis utama untuk autisme, masih merujuk kepada DSM IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders IV) yang hanya dapat dilakukan melalui pengamatan pada anak, dan yang terpenting, anamnesis tidak langsung melalui orang tua.

Berikut merupakan diagnosis autisme berdasarkan DSM IV:

A. Interaksi Sosial (minimal 2):

1.   Tidak mampu menjalin interaksi sosial non verbal: kontak mata, ekspresi muka, posisi tubuh, gerak-gerik kurang tertuju

2.   Kesulitan bermain dengan teman sebaya

3.   Tidak ada empati, perilaku berbagi kesenangan/minat

4.   Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional 2 arah

B. Komunikasi Sosial (minimal 1):

1.   Tidak/terlambat bicara, tidak berusaha berkomunikasi non verbal

2.   Bisa bicara tapi tidak untuk komunikasi/inisiasi, egosentris

3.   Bahasa aneh dan diulang-ulang/stereotip

4.   Cara bermain kurang variatif/imajinatif, kurang imitasi sosial

C. Imaginasi, berpikir fleksibel dan bermain imaginatif (minimal 1):

1.   Mempertahankan 1 minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan, baik intensitas dan fokusnya

2.   Terpaku pada suatu kegiatan ritualistik/rutinitas yang tidak berguna

3.   Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan berulang-ulang. Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian tertentu dari suatu benda

Orang tua juga memiliki peranan utama dalam terapi efektif, karena meskipun telah banyak tersedia obat-obatan yang mendukung pemulihan anak autis, pendekatan secara terapeutik masih merupakan cara penatalakasanaan yang dianjurkan. Melalui terapi efektif, kemampuan bicara, interaksi, serta perubahan pola tingkah laku yang ritualistik dapat dialihkan menjadi lebih terstruktur dan berjadwal. Bersama dengan guru dan ahli terapi, orang tua mengidentifikasi kebiasaan-kebiasaan anak yang harus diubah dan kemampuan-kemampuan apa yang harus diajarkan lagi kepada anak autis.

Maka sudah jelas, jika seorang anak didiagnosis menderita autisme, orang tua tidak boleh menjadi pihak yang dipersalahkan. Autisme dapat disebabkan berbagai macam faktor, terutama genetik, tetapi sama sekali tidak berhubungan dengan pola asuh orang tua. Orang tua justru merupakan pihak yang harus diberi pengertian, dan diarahkan untuk mengambil peran terpenting, bahkan sejak proses diagnosis hingga pengobatan dan terapi untuk kesembuhan yang optimal bagi anak autis.

DAFTAR PUSTAKA

Behrman, Richard E., Robert Kliegman, dan Ann M. Arvin. 2000. Nelson Ilmu Kesehatan Anak Edisi 15 Volume 1. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

European Commission Health & Consumer Protection Directorate-General. 2005. “Some Elements About the Prevalence of Autism Spectrum Disorders (ASD) in the European Union”.

http://www.cdc.gov/ncbddd/autism/data.html. Diakses pada tanggal 12 Februari 2011, 07:55 WIB.

http://www.cdc.gov/ncbddd/autism/facts.html. Diakses pada tanggal 12 Februari 2011, 07:55 WIB.

http://www.emedicinehealth.com/autism/article_em.htm#Autism%20Overview. Diakses pada tanggal 12 Februari 2011, 07:15 WIB.

http://id.wikipedia.org/wiki/Autisme. Diakses pada tanggal 11 Februari 2011, 11:25 WIB.

http://medicine.yale.edu/childstudy/autism/information/autism.aspx. Diakses pada tanggal 12 Februari 2011, 07:15 WIB.

http://novi4lifetransferfactor.blogdetik.com/tag/penyebab-autis/. Diakses pada tanggal 12 Februari 2011, 07:55 WIB.

http://www.smallcrab.com/anak-anak/716-autisme-pada-anak. Diakses pada tanggal 11 Februari 2011, 11:25 WIB.

Lambe, Patrick. 2002. ”The Autism of Knowledge Management”.

Latifa, Rena. 2010. http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2010/01/05/autis-dan-segala-tentangnya/. Diakses pada tanggal 11 Februari 2011, 11:25 WIB.

Piven , Joseph, Pat Palmer, Dinah Jacobi, Debra Childress, and Stephan Arndt. 1997. “Broader Autism Phenotype: Evidence From a Family History Study of Multiple-Incidence Autism Families”.

U.S. Department of Health and Human Services. 2008. Autism Spectrum Disorders, Pervasive Developmental Disorders. United State: National Institutes of Health.