I. Hukum Kloning manusia. الإ سـتنساخ فى البشر كيف حكمه؟

Kloning (klonasi) adalah teknik membuat keturunan dengan kode genetik yang sama dengan induknya pada makhluk hidup tertentu baik berupa tumbuhan, hewan, maupun manusia.Kloning manusia adalah teknik membuat keturunan dengan kode genetik yang sama dengan induknya yang berupa manusia. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengambil sel tubuh (sel somatik) dari tubuh manusia, kemudian diambil inti selnya (nukleusnya), dan selanjutnya ditanamkan pada sel telur (ovum) wanita –yang telah dihilangkan inti selnya– dengan suatu metode yang mirip dengan proses pembuahan atau inse minasi buatan. Dengan metode semacam itu, kloning manusia dilaksanakan dengan cara mengambil inti sel dari tubuh seseorang, lalu dimasukkan ke dalam sel telur yang diambil dari seorang perempuan. Lalu dengan bantuan cairan kimiawi khusus dan kejutan arus listrik, inti sel digabungkan dengan sel telur. Setelah proses penggabungan ini terjadi, sel telur yang telah bercampur dengan inti sel tersebut ditrans fer ke dalam rahim seorang perempuan, agar dapat memperbany ak diri, berkembang, berdiferensiasi, dan berubah menjadi janin sempurna. Setelah itu keturunan yang dihasilkan dapat dilahirkan secara alami. Keturunan ini akan berkode genetik sama dengan induknya, yakni orang yang menjadi sumber inti sel tubuh yang telah ditanamkan pada sel telur perempuan.

Prestasi ilmu pengetahuan yang sampai pada penemuan proses kloning, sesungguhnya telah menyingkapkan sebuah hukum alam yang ditetapkan Allah SWT pada sel-sel tubuh manusia dan hewan, karena proses kloning telah menyingkap fakta bahwa pada sel tubuh manusia dan hewan terdapat poten si menghasilkan keturunan, jika inti sel tubuh tersebut ditanamkan pada sel telur perempuan yang telah dihilangkan inti selnya. Jadi, sifat inti sel tubuh itu tak ubahnya seperti sel sperma laki-laki yang dapat membuahi sel telur perempuan. Pada hakikatnya islam sangat menghargai iptek. Oleh sebab itu sikap islam terhadap cloning tersebut tentunya sangat di tunggu-tunggu oleh masyarakat internasioanl. Di dalam islam berbeda antara hukum cloning binatang dan manusia.

Hukum Kloning pada manusia.

Menurut buku fatawa mu’ashiroh karangan Yusuf Qordhowy bahwa tidak di perbolehkannya Kloning terhadap manusia. Atas beberapa pertimbangan diantaranya :

Pertama: Dengan Kloning akan meniadakan keanekaragaman. (Varietes.)

Allah SWT telah menciptakan alam ini dengan kaedah keanekaragaman. Hal tersebut tertuang dalam Al-Qur’an surat fathir ayat 26 dan 27. sedangkan dengan cloning akan meniadakan keanekaragaman tersebut. Karena dengan cloning secara tidak langsung menciptakan dublikat dari satu orang. Dan dengan ini akan dapat merusak kehidupan manusia dan tatanan social dalam masyarakat, dan efeknya sebagian telah kita ketahui dan sebagian lainnya akan kita ketahui di kemudian hari.

Bagaimana seorang guru bisa membedakan satu orang dengan lainnya jika dalam satu kelas murid-muridnya hasil kloningan ? bagaimana seorang polisi dapat menangkap mencurui jika dalam satu wilayah terdapat puluhan orang denga sidik jari dan muka yang serupa ? dan bagimana seorang istri dapat mengenali suaminya jika ada ratusan orang yang sama persisi dengan suaminya ?

Kedua : Kloning manusia akan menghilang nasab (garis keturunan)

Bagaimana hubungan orang yang mengkloning dan hasil kloningan tersebut, apakah di hukumi sebagai dublikatnya atau bapaknya atau kembarannya? dan ini adalah permasalahan yang kompleks. Kita akan kesulitan dalam menentukan nasab hasil kloningan tersebut. Dan tidak menutup kemungkinan cloning dapat digunakan untuk kejahatan. Siapa yang bisa menjamin jikalau di perbolehkan cloning tidak akan ada suatu Negara yang mencetak ribuan orang yang di gunakan sebagai parjutid milier yang berfungsi menumpas Negara lain..?

Ketiga : Dengan Kloning akan menghilangkan Sunatullah (nikah).

Allah telah menciptakan manusia, tanaman,binatang dengan berpasang-pasangan. Surat Addariyat 46 (و من كل شيء خلقنا زوجين لعلكم تذكرون) Anak-anak produk proses kloning tersebut dihasilkan melalui cara yang tidak alami. Padahal justru cara alami itulah yang telah ditetapkan oleh Allah untuk manusia dan dijadikan-Nya sebagai sunnatullah untuk menghasilkan anak-anak dan keturunan. Allah SWT berfirman :

“dan Bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan, dari air mani apabila dipancarkan.” (QS. An Najm : 45-46)

Keempat : Memproduksi anak melalui proses kloning akan mencegah pelaksanaan banyak hukum-hukum syara’

seperti hukum tentang perkawinan, nasab, nafkah, hak dan kewajiban antara bapak dan anak, waris, perawatan anak, hubungan kemahraman, hubun gan ‘ashabah, dan lain-lain. Di samping itu kloning akan mencampur adukkan dan menghilangkan nasab serta menyalahi fitrah yang telah diciptakan Allah untuk manusia dalam masalah kelahiran anak. Kloning manusia sungguh merupakan perbuatan keji yang akan dapat menjungkir balikkan struktur kehidupan masyarakat.

Berdasarkan dalil-dalil itulah proses kloning manusia diharamkan menurut hukum Islam dan tidak boleh dilaksanakan. Allah SWT berfirman mengenai perkataan Iblis terkutuk, yang mengatakan :

“…dan akan aku (Iblis) suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya.” (QS. An Nisaa’ : 119)