Kehidupan masyarakat, terutama di perkotaan, semakin dinamis dari waktu ke waktu. Kehidupan modern ini juga mempengaruhi pola makan dari masyarakat tersebut. Dengan alasan pengefektifan pemakaian waktu, mereka sering kali memilih untuk mengonsumsi makanan siap saji atau fast food. Makanan siap saji memang dianggap lebih ‘bersahabat’, selain enak dan praktis, makanan ini juga mengenyangkan, harganya tidak terlalu mahal, dan restoran fast food juga mudah dijumpai di berbagai penjuru kota. Setelah bertahun-tahun pola hidup ini berjalan, ternyata muncul dugaan bahwa makanan siap saji dapat menimbulkan obesitas.

Obesitas adalah peningkatan berat badan melebihi batas kebutuhan skeletal dan fisik sebagai akibat akumulasi lemak berlebihan dalam tubuh. Penanda kandungan lemak tubuh yang digunakan adalah indeks massa tubuh (BMI), yang dapat dihitung sebagai:

BMI = Berat badan dalam kg/Tinggi badan dalam (m)²

Secara klinis, BMI yang bernilai antara 25 dan 29,9 kg/m² disebut overweight, dan nilai BMI lebih dari 30 kg/m² disebut obese. Obesitas juga dapat didefenisikan dengan mengukur persentase lemak tubuh total. Obesitas biasanya dinyatakan dengan adanya 25% lemak tubuh total atau lebih pada pria dan sebanyak 35% atau lebih pada wanita. Prevalensi obesitas meningkat dalam dekade terakhir dan sekarang mencapai 15% dari populasi dewasa di Inggris dan sampai 50% pada kelompok ras tertentu.

Obesitas, salah satu penyakit tersering di masyarakat barat, timbul sebagai akibat kelebihan simpanan energi. Jika asupan bahan bakar metabolik selalu lebih besar daripada pengeluaran energi, kelebihan bahan bakar ini disimpan, umumnya sebagai triasilgliserol di jaringan adiposa sehingga timbul obesitas dan berbagai masalah kesehatan yang menyertainya. Obesitas –terutama obesitas abdomen- adalah faktor resiko peningkatan mortalitas, hipertensi, diabetes melitus tipe 2, hiperlipidemia, hiperglikemia, dan berbagai disfungsi endokrin.

Penyebab obesitas sangat kompleks. Meskipun gen berperan penting dalam menentukan dalam menentukan asupan makanan dan metabolisme energi, gaya hidup dan faktor lingkungan dapat berperan dominan pada banyak orang dengan obesitas. Peningkatan prevalensi obesitas yang cepat dalam kurun waktu 20 sampai 30 tahun terakhir, memperkuat pentingnya peran faktor lingkungan dan gaya hidup, karena perubahan genetik tidak dapat timbul secepat itu. Gaya hidup tidak aktif merupakan penyebab utama obesitas, namun, perilaku makan yang tidak baik menjadi penyebab penting terjadinya obesitas. Walaupun beberapa mekanisme fisiologis dapat mengatur asupan makanan, faktor lingkungan dan psikologis juga dapat menimbulkan perilaku makan yang tidak normal dan masukan energi yang berlebih, sehingga menimbulkan obesitas.

Salah satu bentuk perilaku makan yang tidak sehat ini adalah kebiasaan mengonsumsi makanan siap saji. Makanan siap saji memang memiliki kandungan gizi, seperti lemak, protein, vitamin, dan mineral, tetapi makanan ini juga mengandung sejumlah besar lemak jenuh, kolesterol, garam natrium, dan kalori dalam jumlah besar serta hanya sedikit mengandung serat. Rata – rata makanan siap saji mengandung sebanyak 50% dari jumlah kalori yang diperlukan sehari, berkisar antara 400 kalori sampai 1500 kalori, dan 40 – 60% kalori dalam fast food ini berasal dari lemak.

Selanjutnya, hamburger yang besar, kentang goreng, milk shake mengandung 1.200 kalori, yang merupakan total kalori perhari yang diperlukan tubuh untuk seorang yang sedang menjalani diet. Bahan- bahan yang digunakan seperti keju, mayonaise, kream dan bahan yang diolah dengan metode deep frying (seperti lemak sapi dan telur) juga mengandung lemak dengan kadar tinggi. Kandungan gula yang tinggi juga memberikan konstribusi yang cukup besar dalam jumlah kalori total pada makanan siap saji.

Penelitian lebih lanjut menemukan bahwa jenis lemak yang terkandung dalam makan siap saji adalah lemak trans yang berbahaya. Belum lama ini Badan Pengawasan Makanan dan Obat Amerika Serikat (US-FDA) dan British Nutrition Foundation (BNF) mempersoalkan kembali soal lemak trans. Lemak trans diduga menjadi penyebab utama obesitas. Lemak trans merupakan minyak yang diolah melalui proses hidrogenasi parsial (yakni dengan menambahkan hidrogen ke dalamnya). Pengolahan ini dilakukan untuk meningkatkan stabilitas oksidatif agar tak mudah mengalami proses oksidasi. Sebetulnya proses hidrogenasi parsial dilakukan industri pangan untuk membuat margarin. Secara natural, lemak trans juga terbentuk dalam rumen/lambung ternak besar seperti sapi. Jadi, produk-produk seperti mentega atau susu mengandung lemak trans dalam jumlah 2-5%.

Selanjutnya, lemak trans dianggap lebih berbahaya daripada lemak jenuh sebab dicurigai berperan cukup penting dalam meningkatkan kolesterol darah secara progresif. Studi-studi tahun 1980-an menunjukkan orang Skandinavia yang banyak mengonsumsi lemak jenuh tinggi ternyata memiliki insiden penyakit jantung koroner yang lebih rendah dibandingkan orang-orang Amerika yang meski mengonsumsi lemak jenuh lebih rendah, namun tingkat konsumsi lemak trans-nya tinggi. Data dari Institute of Shortening and Edible Oils (ISEO) menyebutkan konsumsi lemak trans yang tinggi akan meningkatkan kolesterol LDL (jahat) dan menurunkan kolesterol HDL (baik), tetapi asal konsumsinya tidak berlebihan maka tidak menimbulkan efek kesehatan yang negatif.

Maka sudah jelas, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, makanan siap saji dapat memicu obesitas. Kebiasaan makan yang tidak sehat seperti mengonsumsi makanan siap saji, yang mengandung lemak trans, kolesterol, dan bahan lainnya, dapat menaikkan berat badan spesifik. Oleh karena itu, pengonsumsian makanan siap saji haruslah dihindari. Solusi lain untuk mengatasi masalah ini adalah dengan memberikan edukasi kepada produsen fast food untuk menambah kadar serat pada makanan siap saji tersebut untuk mengimbangi kadar lemak yang tinggi dan bahan lainnya yang menyebabkan meningkatnya kolesterol. Gaya hidup yang sehat dan aktif, serta olahraga yang teratur juga sangat penting untuk menghindari resiko obesitas.

DAFTAR PUSTAKA

Budiman, Hendra. 2008. Fast Food – Suatu Masalah Keseimbangan Makanan. http://medicineforthesoul.multiply.com/journal/item/14/Fast_Food_-_Suatu_Masalah_Keseimbangan_Makanan. Diakses pada tanggal 30 Mei 2010.

Davey, Patrick. 2005. At a Glance Medicine. Jakarta: Erlangga.

Dorland, W.A. Newman. 2002. Kamus Kedokteran Dorland. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Guyton, Arthur C. dan John E. Hall. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Kurniasih, Dedeh. 2006. Waspadai Lemak Trans. http://www.resep.web.id/kesehatan/waspadai-lemak-trans.htm. Diakses pada tanggal 30 Mei 2010.

Murray, Robert K., D.K. Granner, dan V.W. Rodwell. 2009.  Biokimia Harper Edisi 25. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.