heart and head in hands

Hanya Bersedih


hanya teringat kenangan di masa lalu

tersentak dari kenyataan di masa kini

ternyata waktu tak hanya mengiringi bumi yang berputar

tapi juga jiwa-jiwa yang lalu lalang menjelajah arah

 

inginku membekap telinga

membiarkan lalu lalangnya berita dan cerita

mencoba untuk terus yakin dan percaya

bahwa segalanya masih baik-baik saja

 

mencoba menutup mata

tak sanggup menatap dalam gelap

memilih tenggelam dan gelap sendiri

berlari dari keharusan menyalakan cahaya

 

haruskah menahan lisan dan hati bersuara

terus menggumam dengan kata-kata yang tidak lagi tertata

bahwa ruh ini tengah berduka

bukan kehilangan, namun entah kenapa kenangan begitu terluka

 

Lani, 6 Mei 2013

Ya Allah, ampuni diri yang bersedih dengan kenangan kebersamaan dijalanmu, ampuni jika diri ini salah dalam menilai masa lalu ataupun masa kini, segalanya adalah milik-Mu dan Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Ihdinas shiraatal mustaqiim. Ihdinas shiraatal mustaqiim. Ihdinas shiraatal mustaqiim. Aamiin.

Happy 21st for Dina Fitri Fauziah ^^


Well, Dina Fitri Fauziah, she is my best friend, and today is her birthday. Honestly, I don’t know what kind of prizes I should give, so I think she quite loves my words, haha.

Maybe this is just some prize while we’re facing a very new world, new phase (a very important phase), but still in the same road… in the journey of being a thing we really want to be since we’re a kid: a doctor. Trust me, it is just not as simple as we thought before — new kind of people, new kind of troubles — it’s just harder. Alhamdulillaah, Allah still let us be together to face that all together🙂

after some thought, I’ve noticed one thing different in our friendship, is that nowadays we’re busy on our weaknesses

keeping asking weird thing (we’ll never ask to anyone else), trying hard to hear hurting-true-answer — eager to be better

the more time we’ve spent, the more we realize that is not easy to be a best friend

— since we used to want to be understood without words, to win without competing, to get anything without asking

but with you, with every destiny Allah given us, with every story we share together, i learnt that they are all impossible

I learnt that is important to be honest, to let some important thing to be other’s, to give to get more, to understand more

no one ever know will the next year come, so I think it’s better for just saying: thank you for being my best friend ^^

thank you for understanding my silence, for being that patient — facing stubborn me, for being true in every answer

well. last but not least, happy birthday ^^ thank you for being a very nice prize in my life ^^

so grateful to be a best friend of yours, barakallahu laki ukhtiy😀

happy hunger games! and may the odds be ever in your favor #eh haha ^^v assalamu’alaikum warahamtulllahi wabarakatuh ^^

For always: may Allah let us be together again, in His jannah, aamiin🙂

A Story of Friendship: Her Name is Dina (Part 3)


Tidak beriman salah seorang kalian sampai dia mencintai saudaranyaseperti dia mencintai dirinya sendiri.

H.R. Bukhari dan Muslim

Namun sekali lagi, Allah menyatukan kami. Orangtua saya sepertinya masih menyimpan keinginan untuk salah satu anaknya menjadi seorang dokter. Papa saya sepertinya masih melihat ketidakbulatan tekad saya, dan alih-alih bimbel yang sudah terlanjur dibayar untuk satu tahun, beliau bilang “Cubo juo lah tes masuak FK Unand” (translate: coba juga lah tes masuk FK Unand). Dan dengan cemas hati Mama melepas saya “bertempur” lagi. Setelah melewatkan banyak tes masuk perguruan tinggi, syukurlah masih ada 2 tes lagi, UMB dan SNMPTN. Saya memberanikan ikut UMB dan lulus di FK salah satu universitas di Sumatra yang berpenduduk mayoritas Non-Muslim, dengan tegas saya menolak dengan alasan polos: saya tidak mau mengabdi untuk Non-Muslim, dan Demi Allah saya lebih memilih terbang ke Bandung daripada kesana. Singkat cerita saya ikut SNMPTN dan Alhamdulillah lulus di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.

Kami bertemu kembali🙂

Dengan kehidupan kampus yang sangat dinamis, saya dan Dina mengikuti fokus kegiatan berbeda. Setelah sama-sama mengikuti agenda pengkaderan di UKMF Kerohanian Islam (FSKI BEM KM FK Unand) dan UKMF Ilmiah dan Penelitian (MRC BEM KM FK Unand), kami akhirnya berada di jalan yang berbeda (namun insya Allah arahnya sama🙂 ). Saya menjadi pengurus MRC, sedangkan Dina di FSKI. Saya juga lebih aktif di organisasi lain seperti DPM pada tahun ke-1, BEM pada tahun ke-2,BSMI, dll; sedangkan Dina lebih aktif sebagai pengurus angkatan. Tapiii Alhamdulillaah, persahabatan kami masih tetap terjaga. Hampir semua orang yang mengenal saya tau bahwa Dina adalah sahabat saya, dan begitu pula sebaliknya. Kami punya sahabat-sahabat luar biasa. Tapi tetap saja, kami “sepaket”, hehe. Awalnya sangat banyak yang protes, katanya kami “berbenteng”, susah dimasuki, tapi herannya, mereka sekarang adalah sahabat-sahabat kami J Di akhir tahun 3 kami kembali dipertemukan oelh FULDFK, kami berada di departemen yang sama dan masih aktif sebagai pengurus sampai saat ini; cuma Dina hijrah jadi koordinator IT🙂

Jika sebelumnya selalu saya yang sepertinya cemas ditinggal Dina, kali ini situasinya terbalik.

Semuanya karena 1 hal: Skripsi.

Angkatan kami boleh dibilang penuh cobaan (karena memang selalu dikasih program percobaan). Mulai dari susunan blok yang berbeda dari angkatan sebelumnya, lalu ketika tahun 1 dan 2 tidak libur di hari santu karena kuliah dasar umum dan kegiatan FOME (Family Oriented Medical Education), lalu yang paling special adalah di tahun 3, kami wajib menulis skripsi.

Kalau IP jangan ditanya, Dina jauh lebih tinggi daripada saya. Tapi untuk bagian ini, ujian Dina jauh lebih berat daripada saya, pembimbingnya, penelitiannya, dan sebagainya. Urusannya agak rumit, jadi penyelesaiannya jadi agak terlambat. Saya masih ingat malam itu, ketika saya baru membaca sms bahwa paling lambat ujian skripsi tanggal 20 Januari 2013. Tanggal itu sangat tidak memungkinkan untuk Dina bisa mengejarnya. Malam itu saya langsun menelfon Dina, kami baru berbicara beberapa kalimat sampai akhirnya sesegukan karena hanya menangis satu sama lain.

Syukurlah… Dina dan beberapa kawan lainnya tak gentar dan tetap berjuang dan akhirnya, batasnya menjadi tanggal 30 Januari 2013. Dina akhirnya ujian, dan kami bersama 29 orang teman lainnya dari 230an teman-teman seangkatan 2009 bisa ikut Yudisium Sarjana Kedokteran Periode I 2013, assabiqunal awwalun, resmi S.Ked pada tanggal 7 Februari 2013 (Dina cumloude!). Perjuangan belum berakhir, one step bigger, saya dan teman harus mengikuti ujian masuk Co-Schap untuk mengambil profesi dokter. Setelah ujian tulis pada tanggal 8 Februari, dengan hati sedikit lega karena soalnya cuku[ banyak soal “lama” yang sudah dibahas bersama-sama, besok menghadapi pressure yang sebenarnya. Ujian praktik dengan batas waktu di setiap ruangan: 4 menit 30 detik disetiap ruangan (ada 14 ruangan), untuk menyelesaikan kasus dengan keterampilan klinis. Kabarnya dari tahun ke tahun selalu ada yang tidak lulus.

Dan hari ini (atau mungkin lebih tepatnya kemarin), 14 Februari 2013, kami dinyatakan lulus, semuanya lulus. Saya dan Dina mendapatkan kabar bahwa pengumuman resmi telah ditempelkan tepat saat kami usai melaksanakan shalat zuhur berjama’ah dan like usual, she shed tears (what a softhearted person). Kemudian kami dipersilahkan mendaftar ulang di bagian profesi RSUP M.Djamil. Kami bisa mulai orientasi pada tanggal 18 Februari 2013, dan memulai kehidupan baru sebagai “koas” seminggu berikutnya. Alhamdulillaahi rabbil’alamiin.

Satu do’a lagi kami lantunkan bersama, semoga kami bisa ikut Yudisium Dokter Periode I bersama-sama lagi, aamiin Allahumma aamiin (mohon di-aamiin-kan) :”)

Kini, kami masih bersama-sama. Bagaimana dengan selanjutnya? Wallahu’alam. Yang pasti dunia ini fana. Do’a yang sama seringkali kami utarakan: “Ya Allah jadikanlah kami sahabat di dunia dan di jannah, aamiin.” Karena kelak hanya di surga-Nya lah kita bisa bersama-sama dengan Allah, para Rasul, Malaikat, juga keluarga dan sahabat-sahabat shalih lainnya—bahagia, selamanya :) And together, it feels easier to be in.

Uhibbukifillah naaa… :”)

There will still be very long long jouney. Let’s start a new beginning! Bismillaah!

Untuk saat ini, the end.🙂

A Story of Friendship: Her Name is Dina (Part 2)


Seorang teman sejati bukanlah yang banyak memujimu, tetapi yang memperlihatkan kepadamu aib mu. Yang perlu diingat, menasehati jangan dilakukan didepan orang banyak (agar kita tidak tergolong ke dalam orang yang menyebar aib orang lain).

Umar bin Khattab r.a.

Apakah kami pernah bertengkar? Pernah. Apakah sering? Sangaaaaaaaaat jarang. Lebih tepatnya: cuma ada 1 kali pertengkaran sangat hebat pada waktu kelas II dan setelah itu kami duduk berpisah selama lebih kurang 1 semester sebelum akhirnya duduk sebangku lagi. Kok bisa, masalahnya apa? Whooooo, itu butuh satu chapter lagi untuk diceritakan. Tapi bukan cerita yang menarik untuk dibaca, karena sudah terlalu sering dituliskan di novel-novel teenlit dan saya yakin, besar sekali pengaruh ketidakstabilan hormon disana.

Oya saya lupa bilang, kami sekelas dari kelas 1 sampai kelas 3: I.1, II.1, III.1. Segala puji bagi Allah kami tidak pernah “tersingkir” dari kelas unggul  (terutama saya, she’s very smart, no need to worry, trust me). Kami juga punya beberapa sahabat dekat, yang karena ‘perjalanan’ yang ditakdirkan Allah berbeda-beda, tidak memungkinkan untuk selalu bersama-sama lagi.

That’s another of our destiny, Allah keeps us stick together.

Begitu juga ketika akhirnya kami sama-sama lolos masuk salah satu SMA favorit di kota kami, SMA N 1 Padang. Awalnya kami terpisah kelas, saya X.3 dan Dina X.7 (mulai saat itu kelas di SMP tidak lagi I-III, tapi VI-IX, dan dilanjutkan ke SMA: X-XII). Lalu kami sama-sama tertarik mengikuti program international class, kami mengikuti seleksinya, alhamdulillaah lulus, tapi beda kelas (ada dua kelas internasional yang dibentuk saat itu). But we want to stick together. Jadilah kami mengusahakannya bersama-sama, dan alhamdulillaah lagi, kami bisa sekelas dan sebangku lagi, for another 3 years, yeyy!

Di masa-masa paling indah, kami melewatkannya bersama-sama. Di kelas, kami agak sepaket, Dina biasa jadi bendahara, saya jadi sekretaris. Kelas unik, berisik, tapi sumpah bikin sirik, haha, karena sangat sangat kompak dan saling mencintai *halaah. Kami sama-sama aktif di ekstrakulikuler Rohani Islam, sebuah keluarga baru yang tidak akan pernah kami tinggalkan. Benar-benar masa yang indah, dan seingat saya, kami juga tidak pernah berantem, hehe. Dina adalah murid yang sangat sangat sangat cerdas, juara 1 terus!!! How amazing.

Teenage love story? Well, we do have too, of course. Tapi segala puji bagi Allah yang menganugrahkan kepada kami keluarga yang bahkan sebelum kami memakai ‘rok biru’ sudah wanti-wanti bilang pacaran itu tidak baik. Lalu Rohis, guru-guru pembimbing, kakak-kakak alumni, adik-adik, dan saudari-saudari yang membantu kami mengenal agama kami lebih baik, mengenal diri ini lebih baik, mengenal Rabb yang kami sembah—sehingga akhirnya kami paham, atau setidaknya tau, mana yang disukai Allah, mana yang tidak disukai-Nya, atau bahkan dibencinya. Untuk hal pacaran, sampai sekarang kami sepakat bukan kategori yang pertama. Semoga Allah swt menjaga kami dalam keistiqamahan. Fyi, cerita labil kami sungguh berbeda, kalau Dina ujiannya hati yang berbunga-bunga, kalau saya ujiannya hati yang patah-patah. Hahaha. Youthful.

Hati ini menjadi lebih gelisah di akhir kelas 3, ketika kami mulai menetapkan pilihan masing-masing, kami mau kuliah kemana—atau lebih tepatnya, mau pergi kemana. Sejak dari SD sampai keadaan menjadi sedikit rumit saat itu, kami sepakat memilih satu pilihan: FK Unand, kami mau jadi dokter. Semua jadi membingungkan karena ketika SMA semakin terlihat bahwa Dina sangat mencintai matematika, dan saya sendiri hanya murid rata-rata di rangking sepuluh besar. Sampai akhinya, dengan kekuatan tekad, Dina tetap memilih FK Unand ketika penerimaan lewat jalur nilai rafor a.k.a PMDK dan saya memilih Jurusan Sistem Informasi IT Telkom—terbang ke Bandung. Karena dukungan keluarga besar, saya memutuskan untuk meninggalkan cita-cita di FK Unand. Alhamdulillaah, kami diterima, kami bersyukur, namun pada saat yang sama sangat sangat bersedih karena harus terpisah.

To be continued…

A Story of Friendship: Her Name is Dina (Part 1)


Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.

Q.S. Al Anfal: 63

Persahabatan—tema menarik bagi setiap cerita dalam film, lagu, puisi, bahkan juga tulisan-tulisan lugu murid berseragam merah putih. Hubungan unik yang seakan menembus pertahanan benteng-benteng protein di dinding sel-sel darah merah, ikut mengalir—menghantarkan energi bagi setiap unsur kehidupan di dalam tubuh.

Bagi saya supplier utama energi itu bernama Dina Fitri Fauziah🙂

Banyak yang bertanya sudah berapa lama kami berkawan dekat. Jawabannya mantap, kami bersahabat sudah hampir 10 tahun. Apakah kami tidak punya sahabat lain, jawabannya juga mudah, tentu saja punya, banyak, dan mereka semua luar biasa. Lalu mungkin dilanjutkan pertanyaan lainnya, kenapa selalu berdua-dua, jawabannya sederhana,karena Allah swt yang mengatur agar selalu begitu. Tidak percaya? Baca saja tulisan ini sampai akhir. Hehe.

Saya masih ingat ketika itu hari pendaftaran ulang bagi murid baru di SMP N 8 Padang, saya mengikuti daftar nama murid Kelas I.1 (40 siswa/i dengan nilai UAN tertinggi ditempatkan disana). Ada cukup banyak, seingat saya 9 orang, dari sekolah saya sebelumnya (dari kelas sebelumnya lebih tepatnya), SD Kartika I-11 Padang. Syukurlah, walaupun ada sedikit masalah, hampir semuanya laki-laki, kecuali satu nama: Dina Fitri Fauziah.

Hm, kami tidak terlalu dekat, sama sekali tidak dekat malah, jarang berbicara. Mungkin karena kami hanya sekelas 1 tahun, di Kelas VI A, kelas yang dibentuk untuk siswa/i yang rangking 10 besar dari 4 kelas: A, B, C, dan D yang tidak pernah diacak dari kelas 1. Sedikit hal yang saya tau tentang Dina—Dina adalah sepupu teman sekelas saya sebelumnya, kami pernah dikenalkan waktu kelas IV karena satu alasan: tas kami sama. Oya, Dina anak drumband, pemain lira yang sangat terampil. Itu saja. Dan hey, akhirnya ketika akan pulang setelah selesai mendaftar (saya memang datang agak lebih awal), saya melihat Dina, mengenakan bando dengan sweater kuning dan celana panjang berwarna maroon, waktu itu memang agak hujan. Dia pun melihat saya dan melambai ramah, ntah apa yang saya pikirkan, langsung saja berteriak sambil berlari-lari kecil karena gerimis, “Besok kita duduk sebangku ya!”, untunglah dijawab “Iya”  dengan sangat ramah lagi. Coba kalau Dina bilang “Yah aku udah janji duduk sama si ‘itu’”, terus saya mau duduk sama siapa?? Fyi, dulu saya super duper introvert, sangat introvert dalam hal berkawan (tapi anehnya suka sekali tampil di depan kelas, ckck).

See? That’s our first destiny.

More? Well, ternyata kami sama-sama pecinta Westlife dan Harry Potter. Kami suka bernyanyi di depan kelas (cukup tobat pas SMA). Kami punya style yang sama: rok di bawah lutut dan ada bros kecil di pasang di bawah kancing baju paling atas baju seragam yang kebesaran. Di akhir kelas II, dengan selang 3 hari, kami akhirnya “berjilbab” , Alhamdulillaah.

(to be continued…)


“Even if we don’t have the power to choose where we come from, we can still choose where we go from there. We can still do things. And we can try to feel okay about them.” (Dr. Burton, Charlie)

“We all deserve the love we think we deserve.” (Mr. Anderson, Charlie)

“It’s just that I don’t want to be somebody’s crush. If somebody likes me, I want them to like the real me, not what they think I am.” (Sam)

― Stephen Chbosky, The Perks of Being a Wallflower

Cerita tentang Kuitansi


“Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.” (Q.S. Al An’am: 16)

Cerita ini bermula dari kuitansi.

Alhamdulillah satu persatu “ujian” telah saya lalui,  untuk menamatkan kuliah saya di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, jurusan S1 Pendidikan Dokter Angkatan 2009. Syarat kami untuk mendapatkan gelar S.Ked cukup sederhana kedengarannya, lulus semua blok (21 buah) dan lulus skripsi. Well, it’s not that easy. Saya dan sebagian teman lainnya cukup beruntung diberikan kemudahan oleh Allah swt dalam melewati tahap-tahap ini. Eh salah, tinggal satu blok lagi, satu lagi–kami insya Allah akan segera (baca: tiga hari lagi) melaksanakan ujian blok terakhir ini (semoga lulus tanpa remedial ya Rabb… Aamiin).

Jadi yaah, wajar saja kalau kami sudah mulai mempersiapkan hal-hal yang berkenaan dengan wisuda. Walaupun informasi untuk angkatan kami belum jelas, tentunya mesti berhati-hati, jangan sampai kesandung. Bukankah orang jatuh karena batu yang kecil?

Termasuk dua hal ini: kuitansi pembayaran SPP dan bebas kartu pustaka.

Dan how great, saya bermasalah dikeduanya. Kartu pustaka saya hilang dua-duanya di pustaka (I should tell that it’s not common thing). Saya diberikan surat keterangan tertulis darurat, saya harap bisa segera mengurus surat keterangan formalnya tanpa kesulitan berarti, aamiin. We’ll see tomorrow insha Allah.

Sedangkan kuitansi, paraaaah. Saya membuangnya. MEMBUANGNYA Crying face

How pathetic!

Sejujurnya tidak ada yang pernah memberi tahu saya bahwa menyimpan kuitansi itu penting. Saya menyimpannya untuk satu semester, tapi setelah itu, saya buang dengan tumpukan kertas-kertas dan berkas-berkas  fotokopi yang sudah tidak diperlukan lagi. Alhamdulillah saya ternyata masih beruntung, lagi. Salah seorang teman saya kehilangan salah satu kuitansinya dan telah mengurus duluan ke pihak –pihak terkait.

Saya sendiri kebetulan tadi bayar SPP untuk semester 8 (semoga untuk koas, aamiin), dan mencoba bertanya kepada pegawai bank tempat kami menyalurkan SPP. Naaah, katanya ga bisa, tapiii, sebenarnya bisa, kalau saya ingat kapan tanggal bayarnya, siapa teller-nya, … (come on??). Lalu saya mencoba ke pihak akademik yang menyimpan kuitansi asli pembayaran SPP kami, dan ibunya pun shock (maafkan saya Buu Crying face ). Ibunya jujur bilang, “Kalau cuma kuitansi yang baru bisa ibu usahakan, tapi kalau mesti dari awal ya tentulah ibu keberatan…” (maaf lagi Buuu Crying face ). Dan mungkin entah karena melihat tampang saya yang ga karuan ekspresinya (tapi ga pake nangis juga) akhirnya ibunya bilang: “Ya sudah coba ibu lihat senin ya, sekarang ibu lagi banyak kerjaan” (menurut saya itu adalah jawaban yang penuh kesabaran). Ndeeeeeh, terimakasih banyak buuuuu… :”)

Beberapa orang teman menyarankan juga untuk coba diurus ke puskom dekanat, teman yang saya  ceritakan sebelumnya juga sudah mengurusnya kesana, dan singkat cerita, alhamdulillah saya dapat semacam bukti pembayarannya, tapi tetap saja bukan kuitansi asli. Mudah-mudahan bisa digunakan, tapi tentunya lebih baik jika saya bisa mendapatkan kuitansi aslinya.

Semoga tidak ada “Lani-Lani” lainnya dan ibunya ga tambah repotnya Sad smile Aamiin, Allahumma aamiin.

Intinya: simpan kuitansi pembayaran yang penting baik-baik — simpan sampai kita benar-benar “lepas” dari instansi terkait.

Hikmah yang bisa saya petik: well, setidaknya ketika ada yang bertanya begaimana cara mengurus bukti pembayaran dan kartu pustaka yang hilang, saya tau jawabannya, hehe Open-mouthed smile

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”  (Q.S. Al Baqarah: 286)

Aamiin yaa Rabbal’aalamiin..


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 3,263 other followers

%d bloggers like this: