heart and head in hands

Hanya Bersedih


hanya teringat kenangan di masa lalu

tersentak dari kenyataan di masa kini

ternyata waktu tak hanya mengiringi bumi yang berputar

tapi juga jiwa-jiwa yang lalu lalang menjelajah arah

 

inginku membekap telinga

membiarkan lalu lalangnya berita dan cerita

mencoba untuk terus yakin dan percaya

bahwa segalanya masih baik-baik saja

 

mencoba menutup mata

tak sanggup menatap dalam gelap

memilih tenggelam dan gelap sendiri

berlari dari keharusan menyalakan cahaya

 

haruskah menahan lisan dan hati bersuara

terus menggumam dengan kata-kata yang tidak lagi tertata

bahwa ruh ini tengah berduka

bukan kehilangan, namun entah kenapa kenangan begitu terluka

 

Lani, 6 Mei 2013

Ya Allah, ampuni diri yang bersedih dengan kenangan kebersamaan dijalanmu, ampuni jika diri ini salah dalam menilai masa lalu ataupun masa kini, segalanya adalah milik-Mu dan Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Ihdinas shiraatal mustaqiim. Ihdinas shiraatal mustaqiim. Ihdinas shiraatal mustaqiim. Aamiin.

Happy 21st for Dina Fitri Fauziah ^^


Well, Dina Fitri Fauziah, she is my best friend, and today is her birthday. Honestly, I don’t know what kind of prizes I should give, so I think she quite loves my words, haha.

Maybe this is just some prize while we’re facing a very new world, new phase (a very important phase), but still in the same road… in the journey of being a thing we really want to be since we’re a kid: a doctor. Trust me, it is just not as simple as we thought before — new kind of people, new kind of troubles — it’s just harder. Alhamdulillaah, Allah still let us be together to face that all together 🙂

after some thought, I’ve noticed one thing different in our friendship, is that nowadays we’re busy on our weaknesses

keeping asking weird thing (we’ll never ask to anyone else), trying hard to hear hurting-true-answer — eager to be better

the more time we’ve spent, the more we realize that is not easy to be a best friend

— since we used to want to be understood without words, to win without competing, to get anything without asking

but with you, with every destiny Allah given us, with every story we share together, i learnt that they are all impossible

I learnt that is important to be honest, to let some important thing to be other’s, to give to get more, to understand more

no one ever know will the next year come, so I think it’s better for just saying: thank you for being my best friend ^^

thank you for understanding my silence, for being that patient — facing stubborn me, for being true in every answer

well. last but not least, happy birthday ^^ thank you for being a very nice prize in my life ^^

so grateful to be a best friend of yours, barakallahu laki ukhtiy 😀

happy hunger games! and may the odds be ever in your favor #eh haha ^^v assalamu’alaikum warahamtulllahi wabarakatuh ^^

For always: may Allah let us be together again, in His jannah, aamiin 🙂

A Story of Friendship: Her Name is Dina (Part 3)


Tidak beriman salah seorang kalian sampai dia mencintai saudaranyaseperti dia mencintai dirinya sendiri.

H.R. Bukhari dan Muslim

Namun sekali lagi, Allah menyatukan kami. Orangtua saya sepertinya masih menyimpan keinginan untuk salah satu anaknya menjadi seorang dokter. Papa saya sepertinya masih melihat ketidakbulatan tekad saya, dan alih-alih bimbel yang sudah terlanjur dibayar untuk satu tahun, beliau bilang “Cubo juo lah tes masuak FK Unand” (translate: coba juga lah tes masuk FK Unand). Dan dengan cemas hati Mama melepas saya “bertempur” lagi. Setelah melewatkan banyak tes masuk perguruan tinggi, syukurlah masih ada 2 tes lagi, UMB dan SNMPTN. Saya memberanikan ikut UMB dan lulus di FK salah satu universitas di Sumatra yang berpenduduk mayoritas Non-Muslim, dengan tegas saya menolak dengan alasan polos: saya tidak mau mengabdi untuk Non-Muslim, dan Demi Allah saya lebih memilih terbang ke Bandung daripada kesana. Singkat cerita saya ikut SNMPTN dan Alhamdulillah lulus di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.

Kami bertemu kembali 🙂

Dengan kehidupan kampus yang sangat dinamis, saya dan Dina mengikuti fokus kegiatan berbeda. Setelah sama-sama mengikuti agenda pengkaderan di UKMF Kerohanian Islam (FSKI BEM KM FK Unand) dan UKMF Ilmiah dan Penelitian (MRC BEM KM FK Unand), kami akhirnya berada di jalan yang berbeda (namun insya Allah arahnya sama 🙂 ). Saya menjadi pengurus MRC, sedangkan Dina di FSKI. Saya juga lebih aktif di organisasi lain seperti DPM pada tahun ke-1, BEM pada tahun ke-2,BSMI, dll; sedangkan Dina lebih aktif sebagai pengurus angkatan. Tapiii Alhamdulillaah, persahabatan kami masih tetap terjaga. Hampir semua orang yang mengenal saya tau bahwa Dina adalah sahabat saya, dan begitu pula sebaliknya. Kami punya sahabat-sahabat luar biasa. Tapi tetap saja, kami “sepaket”, hehe. Awalnya sangat banyak yang protes, katanya kami “berbenteng”, susah dimasuki, tapi herannya, mereka sekarang adalah sahabat-sahabat kami J Di akhir tahun 3 kami kembali dipertemukan oelh FULDFK, kami berada di departemen yang sama dan masih aktif sebagai pengurus sampai saat ini; cuma Dina hijrah jadi koordinator IT 🙂

Jika sebelumnya selalu saya yang sepertinya cemas ditinggal Dina, kali ini situasinya terbalik.

Semuanya karena 1 hal: Skripsi.

Angkatan kami boleh dibilang penuh cobaan (karena memang selalu dikasih program percobaan). Mulai dari susunan blok yang berbeda dari angkatan sebelumnya, lalu ketika tahun 1 dan 2 tidak libur di hari santu karena kuliah dasar umum dan kegiatan FOME (Family Oriented Medical Education), lalu yang paling special adalah di tahun 3, kami wajib menulis skripsi.

Kalau IP jangan ditanya, Dina jauh lebih tinggi daripada saya. Tapi untuk bagian ini, ujian Dina jauh lebih berat daripada saya, pembimbingnya, penelitiannya, dan sebagainya. Urusannya agak rumit, jadi penyelesaiannya jadi agak terlambat. Saya masih ingat malam itu, ketika saya baru membaca sms bahwa paling lambat ujian skripsi tanggal 20 Januari 2013. Tanggal itu sangat tidak memungkinkan untuk Dina bisa mengejarnya. Malam itu saya langsun menelfon Dina, kami baru berbicara beberapa kalimat sampai akhirnya sesegukan karena hanya menangis satu sama lain.

Syukurlah… Dina dan beberapa kawan lainnya tak gentar dan tetap berjuang dan akhirnya, batasnya menjadi tanggal 30 Januari 2013. Dina akhirnya ujian, dan kami bersama 29 orang teman lainnya dari 230an teman-teman seangkatan 2009 bisa ikut Yudisium Sarjana Kedokteran Periode I 2013, assabiqunal awwalun, resmi S.Ked pada tanggal 7 Februari 2013 (Dina cumloude!). Perjuangan belum berakhir, one step bigger, saya dan teman harus mengikuti ujian masuk Co-Schap untuk mengambil profesi dokter. Setelah ujian tulis pada tanggal 8 Februari, dengan hati sedikit lega karena soalnya cuku[ banyak soal “lama” yang sudah dibahas bersama-sama, besok menghadapi pressure yang sebenarnya. Ujian praktik dengan batas waktu di setiap ruangan: 4 menit 30 detik disetiap ruangan (ada 14 ruangan), untuk menyelesaikan kasus dengan keterampilan klinis. Kabarnya dari tahun ke tahun selalu ada yang tidak lulus.

Dan hari ini (atau mungkin lebih tepatnya kemarin), 14 Februari 2013, kami dinyatakan lulus, semuanya lulus. Saya dan Dina mendapatkan kabar bahwa pengumuman resmi telah ditempelkan tepat saat kami usai melaksanakan shalat zuhur berjama’ah dan like usual, she shed tears (what a softhearted person). Kemudian kami dipersilahkan mendaftar ulang di bagian profesi RSUP M.Djamil. Kami bisa mulai orientasi pada tanggal 18 Februari 2013, dan memulai kehidupan baru sebagai “koas” seminggu berikutnya. Alhamdulillaahi rabbil’alamiin.

Satu do’a lagi kami lantunkan bersama, semoga kami bisa ikut Yudisium Dokter Periode I bersama-sama lagi, aamiin Allahumma aamiin (mohon di-aamiin-kan) :”)

Kini, kami masih bersama-sama. Bagaimana dengan selanjutnya? Wallahu’alam. Yang pasti dunia ini fana. Do’a yang sama seringkali kami utarakan: “Ya Allah jadikanlah kami sahabat di dunia dan di jannah, aamiin.” Karena kelak hanya di surga-Nya lah kita bisa bersama-sama dengan Allah, para Rasul, Malaikat, juga keluarga dan sahabat-sahabat shalih lainnya—bahagia, selamanya 🙂 And together, it feels easier to be in.

Uhibbukifillah naaa… :”)

There will still be very long long jouney. Let’s start a new beginning! Bismillaah!

Untuk saat ini, the end. 🙂

A Story of Friendship: Her Name is Dina (Part 2)


Seorang teman sejati bukanlah yang banyak memujimu, tetapi yang memperlihatkan kepadamu aib mu. Yang perlu diingat, menasehati jangan dilakukan didepan orang banyak (agar kita tidak tergolong ke dalam orang yang menyebar aib orang lain).

Umar bin Khattab r.a.

Apakah kami pernah bertengkar? Pernah. Apakah sering? Sangaaaaaaaaat jarang. Lebih tepatnya: cuma ada 1 kali pertengkaran sangat hebat pada waktu kelas II dan setelah itu kami duduk berpisah selama lebih kurang 1 semester sebelum akhirnya duduk sebangku lagi. Kok bisa, masalahnya apa? Whooooo, itu butuh satu chapter lagi untuk diceritakan. Tapi bukan cerita yang menarik untuk dibaca, karena sudah terlalu sering dituliskan di novel-novel teenlit dan saya yakin, besar sekali pengaruh ketidakstabilan hormon disana.

Oya saya lupa bilang, kami sekelas dari kelas 1 sampai kelas 3: I.1, II.1, III.1. Segala puji bagi Allah kami tidak pernah “tersingkir” dari kelas unggul  (terutama saya, she’s very smart, no need to worry, trust me). Kami juga punya beberapa sahabat dekat, yang karena ‘perjalanan’ yang ditakdirkan Allah berbeda-beda, tidak memungkinkan untuk selalu bersama-sama lagi.

That’s another of our destiny, Allah keeps us stick together.

Begitu juga ketika akhirnya kami sama-sama lolos masuk salah satu SMA favorit di kota kami, SMA N 1 Padang. Awalnya kami terpisah kelas, saya X.3 dan Dina X.7 (mulai saat itu kelas di SMP tidak lagi I-III, tapi VI-IX, dan dilanjutkan ke SMA: X-XII). Lalu kami sama-sama tertarik mengikuti program international class, kami mengikuti seleksinya, alhamdulillaah lulus, tapi beda kelas (ada dua kelas internasional yang dibentuk saat itu). But we want to stick together. Jadilah kami mengusahakannya bersama-sama, dan alhamdulillaah lagi, kami bisa sekelas dan sebangku lagi, for another 3 years, yeyy!

Di masa-masa paling indah, kami melewatkannya bersama-sama. Di kelas, kami agak sepaket, Dina biasa jadi bendahara, saya jadi sekretaris. Kelas unik, berisik, tapi sumpah bikin sirik, haha, karena sangat sangat kompak dan saling mencintai *halaah. Kami sama-sama aktif di ekstrakulikuler Rohani Islam, sebuah keluarga baru yang tidak akan pernah kami tinggalkan. Benar-benar masa yang indah, dan seingat saya, kami juga tidak pernah berantem, hehe. Dina adalah murid yang sangat sangat sangat cerdas, juara 1 terus!!! How amazing.

Teenage love story? Well, we do have too, of course. Tapi segala puji bagi Allah yang menganugrahkan kepada kami keluarga yang bahkan sebelum kami memakai ‘rok biru’ sudah wanti-wanti bilang pacaran itu tidak baik. Lalu Rohis, guru-guru pembimbing, kakak-kakak alumni, adik-adik, dan saudari-saudari yang membantu kami mengenal agama kami lebih baik, mengenal diri ini lebih baik, mengenal Rabb yang kami sembah—sehingga akhirnya kami paham, atau setidaknya tau, mana yang disukai Allah, mana yang tidak disukai-Nya, atau bahkan dibencinya. Untuk hal pacaran, sampai sekarang kami sepakat bukan kategori yang pertama. Semoga Allah swt menjaga kami dalam keistiqamahan. Fyi, cerita labil kami sungguh berbeda, kalau Dina ujiannya hati yang berbunga-bunga, kalau saya ujiannya hati yang patah-patah. Hahaha. Youthful.

Hati ini menjadi lebih gelisah di akhir kelas 3, ketika kami mulai menetapkan pilihan masing-masing, kami mau kuliah kemana—atau lebih tepatnya, mau pergi kemana. Sejak dari SD sampai keadaan menjadi sedikit rumit saat itu, kami sepakat memilih satu pilihan: FK Unand, kami mau jadi dokter. Semua jadi membingungkan karena ketika SMA semakin terlihat bahwa Dina sangat mencintai matematika, dan saya sendiri hanya murid rata-rata di rangking sepuluh besar. Sampai akhinya, dengan kekuatan tekad, Dina tetap memilih FK Unand ketika penerimaan lewat jalur nilai rafor a.k.a PMDK dan saya memilih Jurusan Sistem Informasi IT Telkom—terbang ke Bandung. Karena dukungan keluarga besar, saya memutuskan untuk meninggalkan cita-cita di FK Unand. Alhamdulillaah, kami diterima, kami bersyukur, namun pada saat yang sama sangat sangat bersedih karena harus terpisah.

To be continued…

A Story of Friendship: Her Name is Dina (Part 1)


Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.

Q.S. Al Anfal: 63

Persahabatan—tema menarik bagi setiap cerita dalam film, lagu, puisi, bahkan juga tulisan-tulisan lugu murid berseragam merah putih. Hubungan unik yang seakan menembus pertahanan benteng-benteng protein di dinding sel-sel darah merah, ikut mengalir—menghantarkan energi bagi setiap unsur kehidupan di dalam tubuh.

Bagi saya supplier utama energi itu bernama Dina Fitri Fauziah 🙂

Banyak yang bertanya sudah berapa lama kami berkawan dekat. Jawabannya mantap, kami bersahabat sudah hampir 10 tahun. Apakah kami tidak punya sahabat lain, jawabannya juga mudah, tentu saja punya, banyak, dan mereka semua luar biasa. Lalu mungkin dilanjutkan pertanyaan lainnya, kenapa selalu berdua-dua, jawabannya sederhana,karena Allah swt yang mengatur agar selalu begitu. Tidak percaya? Baca saja tulisan ini sampai akhir. Hehe.

Saya masih ingat ketika itu hari pendaftaran ulang bagi murid baru di SMP N 8 Padang, saya mengikuti daftar nama murid Kelas I.1 (40 siswa/i dengan nilai UAN tertinggi ditempatkan disana). Ada cukup banyak, seingat saya 9 orang, dari sekolah saya sebelumnya (dari kelas sebelumnya lebih tepatnya), SD Kartika I-11 Padang. Syukurlah, walaupun ada sedikit masalah, hampir semuanya laki-laki, kecuali satu nama: Dina Fitri Fauziah.

Hm, kami tidak terlalu dekat, sama sekali tidak dekat malah, jarang berbicara. Mungkin karena kami hanya sekelas 1 tahun, di Kelas VI A, kelas yang dibentuk untuk siswa/i yang rangking 10 besar dari 4 kelas: A, B, C, dan D yang tidak pernah diacak dari kelas 1. Sedikit hal yang saya tau tentang Dina—Dina adalah sepupu teman sekelas saya sebelumnya, kami pernah dikenalkan waktu kelas IV karena satu alasan: tas kami sama. Oya, Dina anak drumband, pemain lira yang sangat terampil. Itu saja. Dan hey, akhirnya ketika akan pulang setelah selesai mendaftar (saya memang datang agak lebih awal), saya melihat Dina, mengenakan bando dengan sweater kuning dan celana panjang berwarna maroon, waktu itu memang agak hujan. Dia pun melihat saya dan melambai ramah, ntah apa yang saya pikirkan, langsung saja berteriak sambil berlari-lari kecil karena gerimis, “Besok kita duduk sebangku ya!”, untunglah dijawab “Iya”  dengan sangat ramah lagi. Coba kalau Dina bilang “Yah aku udah janji duduk sama si ‘itu’”, terus saya mau duduk sama siapa?? Fyi, dulu saya super duper introvert, sangat introvert dalam hal berkawan (tapi anehnya suka sekali tampil di depan kelas, ckck).

See? That’s our first destiny.

More? Well, ternyata kami sama-sama pecinta Westlife dan Harry Potter. Kami suka bernyanyi di depan kelas (cukup tobat pas SMA). Kami punya style yang sama: rok di bawah lutut dan ada bros kecil di pasang di bawah kancing baju paling atas baju seragam yang kebesaran. Di akhir kelas II, dengan selang 3 hari, kami akhirnya “berjilbab” , Alhamdulillaah.

(to be continued…)


“Even if we don’t have the power to choose where we come from, we can still choose where we go from there. We can still do things. And we can try to feel okay about them.” (Dr. Burton, Charlie)

“We all deserve the love we think we deserve.” (Mr. Anderson, Charlie)

“It’s just that I don’t want to be somebody’s crush. If somebody likes me, I want them to like the real me, not what they think I am.” (Sam)

― Stephen Chbosky, The Perks of Being a Wallflower

Cerita tentang Kuitansi


“Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.” (Q.S. Al An’am: 16)

Cerita ini bermula dari kuitansi.

Alhamdulillah satu persatu “ujian” telah saya lalui,  untuk menamatkan kuliah saya di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, jurusan S1 Pendidikan Dokter Angkatan 2009. Syarat kami untuk mendapatkan gelar S.Ked cukup sederhana kedengarannya, lulus semua blok (21 buah) dan lulus skripsi. Well, it’s not that easy. Saya dan sebagian teman lainnya cukup beruntung diberikan kemudahan oleh Allah swt dalam melewati tahap-tahap ini. Eh salah, tinggal satu blok lagi, satu lagi–kami insya Allah akan segera (baca: tiga hari lagi) melaksanakan ujian blok terakhir ini (semoga lulus tanpa remedial ya Rabb… Aamiin).

Jadi yaah, wajar saja kalau kami sudah mulai mempersiapkan hal-hal yang berkenaan dengan wisuda. Walaupun informasi untuk angkatan kami belum jelas, tentunya mesti berhati-hati, jangan sampai kesandung. Bukankah orang jatuh karena batu yang kecil?

Termasuk dua hal ini: kuitansi pembayaran SPP dan bebas kartu pustaka.

Dan how great, saya bermasalah dikeduanya. Kartu pustaka saya hilang dua-duanya di pustaka (I should tell that it’s not common thing). Saya diberikan surat keterangan tertulis darurat, saya harap bisa segera mengurus surat keterangan formalnya tanpa kesulitan berarti, aamiin. We’ll see tomorrow insha Allah.

Sedangkan kuitansi, paraaaah. Saya membuangnya. MEMBUANGNYA Crying face

How pathetic!

Sejujurnya tidak ada yang pernah memberi tahu saya bahwa menyimpan kuitansi itu penting. Saya menyimpannya untuk satu semester, tapi setelah itu, saya buang dengan tumpukan kertas-kertas dan berkas-berkas  fotokopi yang sudah tidak diperlukan lagi. Alhamdulillah saya ternyata masih beruntung, lagi. Salah seorang teman saya kehilangan salah satu kuitansinya dan telah mengurus duluan ke pihak –pihak terkait.

Saya sendiri kebetulan tadi bayar SPP untuk semester 8 (semoga untuk koas, aamiin), dan mencoba bertanya kepada pegawai bank tempat kami menyalurkan SPP. Naaah, katanya ga bisa, tapiii, sebenarnya bisa, kalau saya ingat kapan tanggal bayarnya, siapa teller-nya, … (come on??). Lalu saya mencoba ke pihak akademik yang menyimpan kuitansi asli pembayaran SPP kami, dan ibunya pun shock (maafkan saya Buu Crying face ). Ibunya jujur bilang, “Kalau cuma kuitansi yang baru bisa ibu usahakan, tapi kalau mesti dari awal ya tentulah ibu keberatan…” (maaf lagi Buuu Crying face ). Dan mungkin entah karena melihat tampang saya yang ga karuan ekspresinya (tapi ga pake nangis juga) akhirnya ibunya bilang: “Ya sudah coba ibu lihat senin ya, sekarang ibu lagi banyak kerjaan” (menurut saya itu adalah jawaban yang penuh kesabaran). Ndeeeeeh, terimakasih banyak buuuuu… :”)

Beberapa orang teman menyarankan juga untuk coba diurus ke puskom dekanat, teman yang saya  ceritakan sebelumnya juga sudah mengurusnya kesana, dan singkat cerita, alhamdulillah saya dapat semacam bukti pembayarannya, tapi tetap saja bukan kuitansi asli. Mudah-mudahan bisa digunakan, tapi tentunya lebih baik jika saya bisa mendapatkan kuitansi aslinya.

Semoga tidak ada “Lani-Lani” lainnya dan ibunya ga tambah repotnya Sad smile Aamiin, Allahumma aamiin.

Intinya: simpan kuitansi pembayaran yang penting baik-baik — simpan sampai kita benar-benar “lepas” dari instansi terkait.

Hikmah yang bisa saya petik: well, setidaknya ketika ada yang bertanya begaimana cara mengurus bukti pembayaran dan kartu pustaka yang hilang, saya tau jawabannya, hehe Open-mouthed smile

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”  (Q.S. Al Baqarah: 286)

Aamiin yaa Rabbal’aalamiin..

2012 in review


The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

4,329 films were submitted to the 2012 Cannes Film Festival. This blog had 14,000 views in 2012. If each view were a film, this blog would power 3 Film Festivals

Click here to see the complete report.

mungkin


tidak tau kita bertemu entah dimana

mungkin ditepian aliran sungai

di penghujung rakit yang sedang menepi

bersandar di batu dan pasir, lalu meninggalkan jejak

tidak tau kita bertemu entah dimana

mungkin ditengah desiran angin

yang berhembus menjauhi gurun yang gersang

menikmati sesepoian, melupakan rumitnya kehidupan

tidak tau kita bertemu entah dimana

mungkin hanya digelapnya ruang hampa

hening tanpa udara dan kata-kata

hanya kilatan sesekali membangunkan mata

atau mungkin hanya di sudut maya

tidak pernah benar-benar ada

tersingkir dari perjalanan nyata

dan mungkin semuanya tiada bermakna…

Fenomena Transisi Kesehatan di Indonesia, Butuh Lebih dari Sekedar Dokter yang Mampu Mengobati Pasien


Indonesia kini mengalami beban berlipat. Angka kematian akibat penyakit tidak menular terus bertambah. Penyakit menular masih belum terberantas. New Emerging Disease, seperti Flu Burung dan SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) juga terus bermunculan. Dalam menjalankan peran saya sebagai seorang dokter di masa depan, bersama teman sejawat tenaga kesehatan lainnya, dibutuhkan lebih dari sekedar usaha kuratif (pengobatan) dan rehabilitatif (pemulihan)untuk mengatasi masalah ini.

Fenomena transisi kesehatan kini menjadi tantangan di dunia kesehatan Indonesia. Insiden penyakit tidak menular terus bertambah, sedangkan insiden penyakit menular masih tetap tinggi. Di Indonesia juga terjadi kesenjangan sosial yang mencolok. Pada tingkat sosial ekonomi yang rendah, penyakit infeksi seperti Tuberkulosis, Kusta, dan Diare, masih tetap tinggi. Penyakit menular lainnya, New Emerging Disease seperti Flu Burung dan SARS juga terus bermunculan, sedangkan penyakit “lama”, diantaranya Malaria, Kolera, dan Difteri, timbul kembali (Re-Emerging Disease).

Menurut penelitian oleh Prasedono dkk.(2005), di daerah Sumatera, Jawa, dan Bali jumlah kematian akibat penyakit tidak menular ditemukan lebih tinggi daripada jumlah kematian akibat penyakit menular. Akan tetapi, menurut penelitian tersebut, di Kawasan Indonesia Timur penyebab kematian utama masih merupakan penyakit menular.

Transisi kesehatan disebabkan oleh dua hal, yaitu transisi demografi dan transisi epidemiologi. Transisi demografi diakibatkan oleh perubahan-perubahan seperti urbanisasi, industrialisasi, meningkatnya pendapatan dan tingkat pendidikan, serta berkembangnya teknologi kesehatan dan kedokteran di masyarakat. Sedangkan transisi epidemiologi muncul karena perubahan pola kematian, terutama akibat infeksi, angka fertilitas total, angka harapan hidup penduduk yang semakin tinggi, dan meningkatnya penyakit tidak menular atau yang disebut juga sebagai penyakit kronik.

Menurut dr.Endang Rahayu Sedyaningsih,MPH,Dr.PH, Menteri Kesehatan Republik Indonesia 2009-2012 (2009), pembangunan kesehatan Indonesia kini diarahkan pada peningkatan upaya promotif dan preventif, selain dari peningkatan atas pelayanan kesehatan bagi masyarakat, terutama penduduk miskin. Pelayanan promotif adalah upaya meningkatkan kesehatan masyarakat ke arah yang lebih baik lagi, sedangkan preventif merupakan usaha pencegahan agar masyarakat tidak jatuh sakit atau terhindar dari penyakit. Upaya promotif dan preventif tersebut meliputi penyakit menular dan penyakit tidak menular, dengan cara memperbaiki kesehatan lingkungan, gizi, perilaku, dan kewaspadaan dini.

Dr.Adang Bachtiar,MPH,ScD (Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)) memaparkan 5 level cara promosi yang paling baik:

  1. Terus menerus melakukan perbaikan pengetahuan, sikap, dan perilaku kesehatan dari individu, keluarga, serta masyarakat.
  2. Adanya upaya sistematik dalam sistem kesehatan yang ada dengan bermacam program yang kemudian akan mendeteksi siapa sesungguhnya tokoh masyarakat yang senantiasa berjuang untuk mengubah keadaan tersebut. Contohnya MUI (Majelis Ulama Indonesia), yang dapat diadvokasi untuk membahas kasus merokok, sehingga diharapkan dapat mengeluarkan fatwa bahwa rokok adalah haram.
  3. Regulasi dalam sistem organisasi untuk menjaga kesehatan, seperti melarang anggotanya untuk merokok dengan sanksi tertentu jika melanggar aturan tersebut.
  4. Menyusun kebijakan kesehatan yang menguntungkan masyarakat.
  5. Public healthy police yang berorientasi untuk memproteksi, meningkatkan, menyadarkan, dan membangkitkan aktivitas pada setiap individu masyarakat. Hal ini dapat dilakukan dengan menyediakan sarana olahraga, sarana bersepeda di jalan, dan lain-lain.

Dalam usaha pencegahan terhadap penyakit menular dan tidak menular, terdapat beberapa perbedaan. Hal ini sehubungan dengan patogenesis (proses terjadinya penyakit) kedua jenis penyakit tersebut.

Penyakit menular (communicable disease) merupakan penyakit yang ditularkan melalui berbagai media. Penyakit menular menjadi masalah di hampir semua negara berkembang karena menyebabkan angka kesakitan dan angka kematian meningkat dalam waktu yang relatif singkat. Jenis penyakit ini timbul akut (mendadak) dan menyerang semua lapisan masyarakat. Disebabkan oleh sifatnya yang menular, penyakit-penyakit tersebut dapat menyebabkan wabah dan menimbulkan kerugian besar diberbagai bidang, seperti ekonomi dan parawisata.

Penyakit menular merupakan interaksi berbagai faktor, yaitu faktor lingkungan (environment), faktor agen penyebab penyakit (agent), dan faktor pejamu (host). Hubungan ketiga faktor tersebut digambarkan secara sederhana sebagai timbangan. Bila agen penyebab penyakit dan pejamu berada dalam keadaan seimbang, maka seseorang berada dalam keadaan sehat. Perubahan keseimbangan akan menyebabkan seseorang sehat atau sakit. Penurunan daya tahan tubuh akan menyebabkan ‘bobot’ agen penyebab penyakit menjadi lebih berat sehingga seseorang menjadi lebih berat sehingga seseorang menjadi sakit. Demikian pula bila agen penyakit lebih banyak atau lebih ganas, sedangkan faktor pejamu tetap, maka bobot agen penyebab menjadi lebih berat. Apabila faktor lingkungan berubah menjadi cenderung menguntungkan agen penyakit, maka seseorang akan menjadi sakit.

Cara pencegahan terhadap penyakit menular adalah dengan memutus rantai penularan, yaitu dengan menghentikan kontak agen penyebab penyakit dengan pejamu. Usaha tersebut lebih dititikberatkan pada penanggulangan faktor resiko penyakit, terutama lingkungan dan perilaku.

Perilaku merupakan akumulasi dari pengetahuan dan sikap terhadap kesehatan. Untuk merubah perilaku masyarakat yang tidak sehat, masyarakat harus dibekali dengan pengetahuan tentang cara-cara hidup sehat, sehingga masyarakat lebih sadar, mau, dan mampu untuk melakukan pola hidup bersih dan sehat. Perubahan perilaku tersebut sangat menentukan untuk tercapainya pencegahan terhadap penyakit menular, sebagai contoh, meskipun sumber air minum, peralatan, dan tangan sudah bersih, perilaku untuk memasak air minum sampai mendidih tetap diperlukan untuk menjamin sterilitas.

Penyakit tidak menular (non-communicable disease) ternyata telah menjadi penyumbang kematian terbesar di Asia Tenggara. Penyakit jantung, stroke, serta paru-paru kronis adalah contoh penyakit tidak menular yang menjadi tren gaya hidup saat ini. Berdasarkan data dari WHO South East Asia 2008, sebanyak 55 persen kematian disebabkan oleh penyakit tidak menular. 35 persen disebabkan oleh penyakit menular dan sisanya 10,7 persen disebabkan luka.

Penyakit tidak menular juga merupakan penyebab kematian terbanyak di Indonesia. Berdasarkan data oleh Departemen Kesahatan Republik Indonesia, proposi angka kematian akibat penyakit tidak menular meningkat dari 41,7% pada tahun 1995 menjadi 49,9% pada tahun 2001 dan 59,5% pada tahun 2007. Penyebab kematian tertinggi dari seluruh penyebab kematian adalah stroke (15,4%), disusul hipertensi, diabetes, kanker, dan penyakit paru obstruktif kronis.

Kematian akibat  penyakit tidak menular terjadi di perkotaan dan perdesaan.  Data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2007 menunjukkan di perkotaan, kematian akibat stroke pada kelompok usia 45-54 tahun sebesar 15,9%, sedangkan di perdesaan sebesar 11,5%. Hal tersebut menunjukkan penyakit tidak menular (utamanya stroke) menyerang usia produktif. Sementara itu prevalensi penyakit tidak menular lainnya cukup tinggi, yaitu:  hipertensi (31,7%), arthritis (30.3%), penyakit jantung (7.2%), dan cedera (7,5%).

Penyakit tidak menular dipicu berbagai faktor risiko antara lain merokok, diet yang tidak sehat, kurang aktivitas fisik, dan gaya hidup  tidak sehat. Riskesdas 2007 melaporkan, 34,7% penduduk usia 15 tahun ke atas merokok setiap hari, 93,6% kurang konsumsi buah dan sayur serta 48,2% kurang aktivitas fisik.

Peningkatan penyakit tidak menular berdampak negatif pada ekonomi dan produktivitas bangsa. Pengobatan penyakit tidak menular  seringkali memakan waktu lama dan memerlukan biaya besar. Beberapa jenis penyakit tidak menular adalah penyakit kronik dan/atau katastropik yang dapat mengganggu ekonomi penderita dan keluarganya. Selain itu, salah satu dampak PTM adalah terjadinya kecacatan termasuk kecacatan permanen.

Dalam usaha pencegahan penyakit tidak menular, penting untuk mengetahui perilaku berisiko dan faktor risiko perantara penyakit. Tiga perilaku berisiko yang merupakan penyebab penyakit tidak menular utama (Penyakit Jantung Koroner, Stroke, Diabetes Mellitus, Penyakit Pembuluh Darah, Penyakit Paru Kronik, dan Keganasan) adalah merokok, perilaku kurang makan makanan berserat (buah dan sayur), dan kurang gerak.  Faktor risiko perantara penyakit tidak menular diantara lain adalah tekanan darah tinggi, gula darah meningkat, kelebihan berat badan, dan hiperkolesterolemia.

Pencegahan terhadap penyakit tidak menular dapat dilakukan dengan menghentikan perilaku berisiko yang telah disebutkan diatas. Deteksi dini dan penanggulangan faktor risiko perantara juga penting untuk dilakukan, karena faktor risiko yang ditemukan saat ini, merupakan gambaran penyakit di masa yang akan datang.

Penanganan penyakit tidak menular tidak hanya cukup pada tindakan kuratif dan rehabilitatif. Sebagai contoh, kepada setiap penderita diabetes, selain pemberian obat-obatan dan bimbingan diet yang sesuai dengan kebutuhan, para penderita dan keluarga juga berhak mendapatkan edukasi. Sebagai tindakan preventif, seorang dokter harus bersedia meluangkn waktu untuk menerangkan kepada keluarga bahwa risiko keluarga untuk terkena penyakit diabetes juga lebih tinggi, oleh karena itu harus menjaga pola makan sehat dan seimbang, berikut rinciannya. Tindakan tersebut tidak akan berdampak cepat di masa kini, tapi akan membantu untuk tidak bertambahnya penderita penyakit tersebut di masa depan. Masyarakat juga akan lebih mandiri dalam menjaga kesehatannya, dan tentunya cita-cita untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera akan lebih dekat untuk diwujudkan seiring dengan meningkatnya kualitas hidup setiap individu.

Oleh karena itu, transisi kesehatan bukanlah menjadi masalah yang mustahil untuk diatasi bangsa ini, jika tenaga kesehatan dan semua pihak yang terkait peduli akan hal ini. Bahwa yang dibutuhkan masyarakat tidak cukup hanya kata “sembuh” tapi juga “jauh” dari penyakit-penyakit tersebut. Penatalaksanaan yang komprehensif meliputi promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif, akan membantu mewujudkan masyarakat sehat yang mandiri dan sejahtera.


%d bloggers like this: